Surau Yang Lalu

Surau yang lalu
:untuk perempuanku

Pada surau yang lalu
Tepat setelah gerimis rubuh di pelataran

Laju kaki sunyi memeta ruang
Pada tanahtanah basah yang ditaburi doa
Detak jam menggantung pilu seakan tak sabar untuk mulai bersujud

Sementara suarasurau itu terus memanggilmu
Memanggili namamu
Yang hilang

Pada surau yang lalu
Tepat setelah gerimis rubuh di pelataran

Seorang anak kecil lantunkan salam
Wajahnya bersih tanpa kemuraman
Tak peduli dosadosa yang kelak datang
Menghantam keningnya atau merobek hatinya

Anak kecil itu terus melangkah
Seakan tak sabar untuk mulai mengucap doa
Hingga waktu terus menghunus harap
Di ruang yang lapang
Tanpa bayang siapa yang datang

Pada surau yang lalu
Tepat setelah gerimis rubuh di pelataran.

Kalibata, 6 juli 2011.

Published in: on July 6, 2011 at 19:33  Leave a Comment  
Tags: , ,

Jika kami berbeda, dosakah? -e.m.b.r.i.o

Jika Tuhan menjadikanmu berbeda keyakinan denganku, apakah Tuhan juga akan menjadikanmu bukan milikku?

Jika agama mengajarkan kebaikan, lalu mengapa agama mengharuskan perpisahan? Sedangkan pada dirimu kulihat kebaikan?

Jika harus bersama dia yang sama keyakinan tanpa cinta dan kasih sayang, apa itu bentuk kebaikan ajaran agama?

Tuhan kami sama-sama satu, kami hanya berbeda perantara. Bukankah Tuhan penuh cinta dan kasih sayang? Kenapa kami dipisahkan karena perbedaan agama?

Tuhan menyuruh kita menikah karena agama dan takwa. Jika agamanya dan agamaku memiliki Tuhan yang sama, kenapa kami tetap tak boleh bersama?

Jika agama kami berbeda nama, namun Tuhan kami tetap sama kenapa manusia masih membedakan nama? Bukankah cinta kami kehendak Tuhan juga?

Kami dipisahkan aturan manusia atas nama aturanmu, Tuhan. Kami tak tahu harus mengadu kemana selain kepadamu. Namun, mereka masih saja tetap tak peduli pada hati.

Lalu dipaksakan kepada kami pasangan seagama yang tak kami cintai.

Jika kami menuruti kehendak mereka lalu menikah tanpa rasa di hati, apa Tuhan merestui pernikahan kami?

Apakah pernikahan yang dipaksakan atas nama kebaikan agama ini sebuah kebaikan? Apa memisahkan dua orang yang saling mencintai itu sebuah kebaikan?

Aku mengadu pada Tuhanku, pun ia pada Tuhannya, Tuhan kami yang Esa. Kami menangis tanpa mampu memberontak. Kami menyayangi Tuhan kami.

Mereka bilang salah satu dari kami harus pindah agama. Apa itu menyelesaikan masalah? Apa itu sebuah solusi? iman kami ada di hati, bukan di KTP!

Jika kami harus terusir, maka usirlah kami. Bukan mengusir kami dari Tuhan kami. Ijinkan kami menyayangi Tuhan kami dengan iman kami.

Mereka bilang kami akan masuk neraka, ditolak surga. Kami hanya ingin saling mencintai, memiliki. kami menyayangi Tuhan kami. Biarkan Tuhan kami yang menentukan.

Kami menyayangi Tuhan kami bukan karena imbalan, surga pun neraka. Cinta kami pun bukan untuk diperjualbelikan atas nama agama. Jangan paksa kami menjual iman dan Tuhan kami.

Kini kami terpisah dan kalian tetap tak peduli. Kalian tak peduli betapa hancurnya perasaan kami. Kalian tertawa atas nama agama.

Tuhan, mereka bilang ini kehendakmu. Kami tak yakin kau mempertemukan kami hanya untuk sebuah penderitaan. Kami percaya padamu.

Kami percaya kau maha menyayangi. Kami percaya kau menyayangi hambamu yang menyayangimu. Perbedaan ini hanyalah baju, bukan hati kami dimana iman kami memujamu.

Jika perpisahan ini pun kehendakmu, maka jagalah kekasihku. Jagalah hatinya dari rasa duka karena perbedaan ini. Tuhan, lindungi dia.

Tiap tetes airmatanya bukanlah kesedihan karena kami tak bisa bersama, Tuhan. Tapi karena mereka membedakanmu atas nama agama.

Tuhan, kau mengetahui apa yang terbaik bagi kami. Jika kami lancang saling mencintai, maka jangan kau berikan rasa seperti ini kepada orang lain.

Cukuplah kami yang merasakan cinta seperti ini. Cukuplah mereka membedakanmu karana nama agama yang berbeda. jangan lagi ada kepedihan seperti ini.

Kami tahu, tak ada solusi selain kami disuruh berpisah, bersabar atau menjual agama kami. Sekali lagi, tidak! Biarkan kami saling mencintai dengan cara kami.

Silahkan bilang kami bodoh, bebal atau apa pun. kami menyayangi Tuhan kami, kami pun salin menyayangi satu sama lain. Biarkan kisah kami menjadi dongeng duka.

Agar cukup kami yang meneteskan airmata kepedihan. Karena perbedaan yang dibuat manusia. Atas nama surga dan neraka pun atas nama Tuhan.

Tuhan, kami titipkan rasa ini kepadamu. Darimu semua berawal, rasa ini pun milikmu. Ijinkan kami menikmatinya kelak di kebun cintamu.
Kami tak menyesal saling mencintai dan menyayangi. Bukankah engkau yang mengajarkan kami rasa itu? Tuhan, kau tahu kami memujamu, yang Esa.

Jika takdir kami harus seperti ini, maka kami menerimanya dengan kepatuhan karenamu. Bukan karena mereka yang meributkan nama agamamu.

Kekasihku, mungkin ia kini tersudut sepi dihimpit duka. Tuhan, beri ia keteduhan. Yakinkan semua ini kehendakmu. Aku mohon, Tuhan. Beri ia hati yang lapang. Untuk memahami bahwa cinta kami adalah kehendakmu, sebagai kisah untuk mereka yang saling mencintai namun berbeda agama.

Tuhan, maaf jika aku terlalu banyak menyebut namamu untuk masalah kami yang tak sepatutnya membawa-bawa namamu yang suci itu.

Dan mereka yang selalu membedakanmu karena nama agama, beri mereka kebaikan dan kasih sayangmu.

Selamat malam Tuhan, kami menyayangimu.

-karena cinta aku ada.

Published in: on June 16, 2011 at 04:17  Comments (5)  
Tags: , ,

Kisah sederhana, untukmu. -d.e.s.t.i.n.y

Aku tak tahu kenapa aku harus menuliskan kisah ini, apa pun alasan yang kucoba hadirkan untuk sekedar jadi pembenaran atau pun sebagai alasan bahwa kau memang berarti untukku, sepertinya belumlah cukup untuk meyakinkanku mulai menulis kisah ini.

Aku masih mengingat bagaimana airmata itu terlalu deras mengalir dari bola matamu yang sendu. Atau tatap kosong tiap kali hujan turun menemanimu di sore yang gelap itu. Aku benar-benar tak tahu harus menulis darimana.

Dan tahukah kau, aku baru meyakini bahwa aku harus menulis kisah ini, tepat ketika aku menjejakkan kakiku di pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai Ujung Genteng, pantai yang selalu kau ceritakan tiap kali tubuh ringkihmu bersandar di bahuku.

“Jika pertemuan adalah rahasia, maka pertemuanku denganmu melebihi rahasia itu sendiri.”

Pertemuan kami mungkin bukanlah hal yang aneh bagi semua orang. Pertemuan tiba-tiba yang tak pernah sekali pun terbayangkan. Ketika lekuk para penari asik dengan kemabukkannya pada lantai-lantai kayu tua berwarna coklat gelap, di ruang seni yang dindingnya penuh dengan lukisan karya Abdulah. Tak ada hal yang menyita semua tatapku dari para penari itu sampai kau datang dengan kaki berjingkat pelan lalu duduk tepat di pojok ruang. Dan sejak saat itu, tak ada lagi liukan penari, tak ada lagi lagu sendu yang mengiringinya, mataku sepenuhnya berisi wajahmu.

“Aku tak mengenalmu sebelum mata itu menyapa dan mengajakku berbincang tentang arti kerinduan.”

Suara-suara langkah kaki mulai terdengar menyelinap ke telingaku. Langkah-langkah penuh harapan yang penuh dengan keyakinan akan masa depan. Tapi tidak dengan mataku yang masih saja menatapmu duduk termenung di pojok sana, termenung dengan tatap kosongmu. Tidak ada hal lain dalam otakku selain berharap mata itu segera menatapku, sekedar berbincang akan awal pertemuan. Dan degup berhenti, ketika mata saling menatap penuh keintiman, seperti pengantin yang meneguk secawan hasrat di bulan purnama. Aku mengenalmu dari tatap itu, pun denganmu.

“Menarilah di dadaku, bersenandunglah di hatiku. Karena kau adalah altar dan lagu yang sempurna untuk tarianku.”

Ruang seni ini terasa begitu hening. Tak ada sesiapapun selain kau dan aku. Hembusan angin dari celah jendela kayu tua terasa begitu menyejukkan. Dan aku mulai berdiri laksana kuda-kuda perang siberia yang tak lagi mengenal rasa takut pada kematian. Aku berjalan ke medan perang yang tak pernah kuragukan untuk kuhadapi. Mataku penuh dengan wajahmu, degupan jantungku penuh dengan dentuman hasrat menggapaimu hingga tulangku bergemeretak tiap kali kakiku menjejak pada lantai kayu berwarna coklat ini. Dan takdir mulai bersikap egois, ia mengambil seluruh kuasaku untuk menolak, pun kuasanya untuk menghindar dari ketentuan. Kami menari seperti camar yang terbang meliuk rendah menuju dermaga. Kami bersenandung layaknya penyair-penyair meledakkan kata-katanya di altar para Raja.

“Jika pertemuan adalah awal perpisahan maka tidak dengan pertemuanku denganmu, pertemuan kita adalah awal yang tak pernah ada akhir.”

Tak ada yang lebih membahagiakan semua orang selain rasa kasih sayang yang melekat di hati. Pertemuan yang berawal dari rahasia mengantar kami pada jalan berliku penuh rahasia. Semua terasa akan baik-baik saja, seperti halnya pucuk-pucuk cemara yang akan selalu mencoba menggapai matahari, atau putik-putik mawar yang tak pernah berhenti berharap untuk segera menjadi mawar terindah di antara lainnya. Hingga kami harus berdiri, mematung di antara kenyataan yang berebut masuk ke kisah ini. Perempuanku, dialah penari yang mampu membuat jiwaku ikut menari. Dialah penyenandung yang mampu membuat rohku ikut bernyanyi. Dan kenyataan begitu egois untuk menggerogoti jasadnya yang terus merapuh karena kanker yang melekat di rahimnya.

“Cintai aku laksana pasir, demikianlah yang aku pinta darimu. Jangan cintai aku seperti bintang-bintang malam, aku tak pernah ingin jauh darimu.”

Matahari mulai bersinar redup tiap kali kami berbicara tentang masa depan. Senja tak lagi berwarna keemasan, tak lagi hadirkan doa-doa yang selalu disenandungkan alam. Dan perempuanku tetap saja menari, terus saja bersenandung, seolah semua akan baik-baik saja. Ia mulai bercerita bagaimana dalam mimpinya ia selalu berjalan menggenggam jemariku di hamparan pasir putih, di antara alunan ombak, di antara matahari yang tak pernah malu-malu tersenyum. Ia selalu menatap dan mengisi mataku penuh dengan wajahnya. Dialah perempuanku, yang kini harus terbaring mencoba berbincang dengan kematian. Dialah perempuanku, yang tak pernah berhenti meyakinkanku bahwa matahari akan selalu bersinar tiap pagi.

“Perpisahan yang lebih menyakitkanku, bukanlah kematian. Namun mata yang tak akan mampu lagi mengajakmu berbincang.”

Penari itu telah pergi. Ia menghuni ruang seni yang baru, mungkin bukan dengan lantai kayu berwarna coklat tua. bukan dengan dinding penyekat yang penuh dengan lukisan, bukan pula dengan lagu-lagu yang penuh dengan irama kesedihan. Penari itu kini menari untuk Rajanya, seperti halnya penyair-penyair itu. Namun, penari itu masih terus saja menari di daadaku, masih terus saja bersenandung di hatiku. Seperti halnya camar, pucuk cemara dan putik-putik mawar yang akan terus ada. Sebagaimana matahari, yang ia janjikan untukku.

Demikian apa yang mampu kutulis untukmu, kisah sederhana untuk mengenang pertemuan yang tak berakhir. Untuk perempuan yang tak pernah sempat kuajak menari di hamparan pasir putih. Tak sempat menggenggam jemariku, atau sekedar menatap laut yang biru.

-kau penari jiwaku, Ta.

Published in: on May 8, 2011 at 00:27  Leave a Comment  
Tags: , , ,

Buku tentangku, tentangmu “Ego.Centris: e.m.b.r.i.o”

Ego.Centris

Ego.Centris : e.m.b.r.i.o

Sinopsis: Berisi paparan dan kisah tentang kehidupan cinta sehari-hari yang dialami dengan sudut pandang yang berbeda. Salah satu isinya tentang orang ketiga, benarkah orang ketiga sekedar godaan? Ataukah sebenarnya orang ketiga itu adalah petunjuk nyata dari Tuhan tentang siapa sebenarnya jodoh kita?

Salam hangat,
Novanka Raja.

Published in: on March 22, 2011 at 18:37  Leave a Comment  
Tags: , ,
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.