bingung?

10 05 2008

terkadang dia benar-benar sempurna..

terkadang dia benar-benar asing..

terkadang dia benar-benar mengerti..

terkadang dia benar-benar membingungkan!

tapi..

kenapa malu bilang cinta?

kenapa harus mencari celah tuk pergi?

kenapa masih merindukan?

kenapa?

teman..hati itu kan menjawab apa yang benar..

usah lari dan berlagak ga peduli..

nb. tuk temanku, sahabat surgaku. PG





Cinta itu..

10 05 2008

dari sebuah kata terkadang kita menjadi pengemis

yang tak malu meski hati ternoda pahit caci

yang meminta dan bersimpuh hingga waktu tak tentu

dari sebuah kata seteguk air menjadi lautan

yang menenggelamkan mereka yang berlayar

yang rapuhkan karang oleh tarian ombaknya

dari sebuah kata kita menjadi penyair

yang memeluk kata tuk hangatkan jiwanya

yang merajut bahasa tuk ungkapkan rasanya

dari sebuah kata kita menjadi debu

yang terbawa kemanapun angina ingin pergi

yang mengubur kebajikan – kebajikan mimpi

dari sebuah kata sebenarnya kita mengerti

hidup bukan tuk diri sendiri tetapi berbagi

dengan hati yang terberkati…





Bunga di ujung musim

10 05 2008

Seperti bunga di ujung musim, terdiam dan tertunduk menunggu redupnya

Seperti badai di tengah lautan, bernyanyi dan hempaskan karang

Seperti itulah aku, yang terhimpit pada keruhnya kenyataan

Mencoba tuk berlari bertumpu pada kaki yang terbenam,

Berpijak langkah yang gontai, seperti ilalang tertiup angin

Membuka mata hati yang mati, hanya ada engkau dan kenangan

Hanya terpejam terurai buih yang gantikan embun ratapan

Mencoba berpijar pada gelapnya jiwa dan temukan kedewasaan

Tetap saja aku di sini, terbentur kerasnya ego rintihan hati

Inilah aku, seperti yang mereka tahu, sebagai bunga pergantian musim

Yang layu menunggu datangnya musim gugur..





Jiwa yang rindu keabadian

10 05 2008

Kematian terkadang lebih indah bila disejajarkan kehidupan

Tak terbatas pada kepatuhan dan keterikatan jiwa

Kekosongan hanya sebatas raga, tak terbuka mata

Kematian menyeret kita pada jalannya yang bertapak

Yang meluruhkan rasa sakit, pedih, dan kehinaan dunia

Kehidupan yang bersandar pada nafas lebih berharga dari kata

Karena nafas lahir dari jiwa yang suci bukan dari rahim nafsu

Bukankah kematian awal dari kehidupan juga?

Kita berputar ikuti roda alam yang terkadang kita tersesat

Tak memandang baik pun buruk yang hadir bagi kita

Bukankah kehidupan mengunci kita pada ketidakpastian?

Hanya jiwa – jiwa yang buta diperbudak oleh itu

Tak jauh berbeda dari keledai yang memangku tuannya

Jika hidup itu terurut dar lahir kemudian mati

Mengapa takut membekap suara – suara hati?

Jiwa yang haus, menangis dan berteriak ingin bebas

Mungkin menyadari keabadian bukanlah sebuah keraguan

Puing yang runtuh dari keputus asaan hanya menjadi prasasti

Yang mencoba ingatkan mereka hidup tak terus berlanjut

Sesudah perenungan itu, masihkah kita munafik?

Setiap jiwa berhak memilih apa yang terlihat olehnya

Mengapa takut masih saja membekap suara-suara hati?

nb. untuk semua pejuang palestina.