Di tengah jalan..

16 05 2008

Di tengah rintik hujan ini,

aku menunggumu, sendiri dalam sunyi

Seperti hari kemarin, dan kemarinnya lagi..

Entah kapan kau disini, kembali bersamaku, dan tak pergi lagi

Haruskah ku tinggalkan asa ini, haruskah ku terus bertahan dalam dingin ini

Jujur ku tak mampu lagi tuk memilih, hatiku semakin tak terasa, beku…

Ingin ku berlari, berteduh dan hangatkan jiwa ini, mencari penopang jalan

Yang kan menuntunku pada diriku yang dulu lagi..

Tapi aku tak mampu, kakiku terlalu berat tuk melangkah

Aku ingin secepatnya mengerti, apa yang terjadi dan akan terjadi esok

Masihkah seperti hari ini dan hari – hari yang ku lalui tanpamu

Mungkin aku memang terlahir tuk jalani kegetiran ini, benarkah?

Andai saja aku tahu, apa yang sedang kau lakukan

Benarkah kau sedang berlari menujuku ataukah meninggalkanku sendiri?

Kemana aku bertanya? Pada hujan ini? Pada sepi ini?

Tuhan, beri aku jawaban..aku butuh Kau…segeralah menyentuhku, bimbing ragaku

Aku ingin pulang..dan berbaring diranjangku..bermimpi..bersamamu…

Surat terakhir darimu, tujuh bulan yang lalu..masih ku dekap erat di dadaku

Entah sampai kapan..

Di tengah jalan ini, aku tak mampu lagi jejakkan langkahku

Di tengah kegalauan ini, aku ingin kepastian..bukan angan dan buaian…

Tiap angin membawa namamu, bisikkan kata rindumu..aku bergetar…

Aku ingin itu nyata..nyata..dan aku sadari, semua hanya khayalan

Kau tak ada disini, disisiku, memelukku dan kuatkan aku

Kau di sana..masih disana..di ujung jalan yang lain, jauh dariku..

Hujan kini telah terhenti, kakiku tenggelam dalam kesendirian..kesepian dan kerinduan…

Jiwaku telah kering, telah retak, seperti hatiku, seperti ragaku…

Tak mampu lagi rasakan hangatnya pagi, hangatnya sapamu…

Tanya dalam bibirku hanya sisakan kerapuhan,

Esok akankah kau datang , akhiri penantian ini, berikan aku bahagia

Atau esok kau kan datang, dan pastikan jika aku tak sepantasnya menunggumu

Atau mungkin, esok kau tak kan datang, seperti hari ini, dan hari yang lalu..

Di tengah jalan ini, aku masih mendekap janji yang dulu kau ucap

Sesuatu yang ku yakini, dan satu yang paling aku yakini..

Esok tiada yang tahu..esok adalah rahasia…

Seperti kau dan aku..seperi kisah kita..

Seperti janjiku janjimu..

Yang dulu





Karena kau miliknya..

16 05 2008

ketika semua sudah terlambat, tak ada lagi jalan tuk kembali

ketika rasa itu ku tutupi jelaga hitam,

ketika kau mencoba menaburkan mimpi

saat ku berpaling melihatmu,

saat ku campakkan senyum manismu,

saat tanganmu membasuh wajahku, saat kau menghibur senduku, …aku tak perduli…

hingga kini kau di sana, memeluk dan membelainya,

…aku perduli…

merasakan arti kehilangan, kesepian, dan penyesalan yang merantaiku erat

aku meringkuk dalam perihnya duri, melihatmu membunuh hatiku perlahan-lahan

ribuan pertanyaan selalu menghantuiku, berdesak menghimpit alam sadarku

apa yang ku lakukan saat kau menangis karenaku?

Apa yang ku tinggalkan saat kau sendiri?

Kini aku mengerti jawaban dari semua itu, saat kau berkata

bunga-bunga akan mekar setelah ia mati, cinta hanya bersemi setelah perpisahan..”

dan betapa bodohnya aku saat sadari semua,

setelah engkau pergi…

setidaknya aku masih bisa tersenyum karena kau bahagia

bersama seseorang yang tulus mencintai dan menjagamu

meski untuk itu

aku harus melawan ribuan pisau tajam yang tak henti menusuk jiwaku

inilah hidup yang harus ku jalani, kenyataan terbaik yang pernah ku hadapi

karena kini, kau kekasih sahabat terbaikku…





Waktu tuk mencintai..

16 05 2008

Pernahkah engkau bayangkan sepasang kekasih yang hanya punya sedikit waktu tuk bertemu dan mereka bahagia karena itu?

Cobalah engkau bayangkan tentang malam yang menjadi ratu dan siang rajanya

Merekalah sepasang kekasih yang sempurna, yang hanya dua kali bertemu

Saat pagi dan petang, dan akan terus begitu hingga akhir

Perpaduan yang bagi sebagian akal tak mungkin tuk diterima

Siang yang ksatria bertempur dalam riak-riak kehidupan

Malam yang setia tuk melipur lara dan menepi duka…

Mereka saling menghibur dalam bahasa tanpa kata

Dan saling setia tuk melepas rindu saat waktunya tiba

Dapatkah kau bayangkan apa yang kan terjadi bila keduanya selalu bertemu?

Kekasihku, cobalah menerimaku seperti itu

Kau dan aku tak mungkin selamanya bersama, ada saatnya pertemuan dan ada kalanya perpisahan tiba, Cobalah bahagia dengan itu

Kesetiaan dan penantian bukanlah siksaan untuk kita jalani

Hadapilah keduanya dengan keyakinan hati dan kau akan mengerti

Mencintai apa pun adalah pengorbanan besar dalam hidup!!!

NB: Ini adalah persembahan bagi siapa pun yang mencintai seseorang dan terpisah karena jarak dan waktu.





Sinisme #1 Lelaki Pencinta Surga..

16 05 2008

Mungkin apa yang ku lakukan kini tiada arti bagimu, kau tak pernah perduli betapa sakitnya aku, betapa menderitanya hati yang kau tinggal. Sunguh apa pun itu aku tak ingin lagi perduli…

Aku sadari, betapa bodohnya pria ini, pria yang mencoba setia, bahkan teramat setia!

Kau memang menarik dan aku pun harus jujur bila rasa itu masih ada. Tapi biarlah ku yakinkan hati ini, kelak kau kan mengerti dan kau kan menangis sesal saat kau tahu betapa berharganya aku!

Lihatlah kelak lelaki yang kau puja, lelaki yang kau agungkan, tak kan pernah bisa berikan ketulusan seperti aku. Bukan ku memaki, bukan pula ku menyumpah. Aku hanya katakan apa yang ku rasa, sebagai pria pemujamu…

Ingatlah wanitaku, hari ini, tujuh tahun lagi kau kan melihat lelaki ini, lelaki yang kan buka matamu, lelaki yang kau dulu caci, maki, dan benci. Lihatlah baik-baik, betapa agungnya aku, betapa indahnya aku!

Dan saat itu tak ada lagi yang tersisa untukmu…

nb. terkadang, benci adalah perasaan manusia yg paling hebat!

Karena, benci kan tunjukkan siapa sebenarnya diri kita..

Kita bisa menilai siapa kita, siapa orang lain,

TETAPI, kita kan lebih menjadi manusia bila benci itu hilang,

bila benci itu terganti ikhlas yang tulus..untuk memaafkan..