Yang ku rasa..

26 05 2008

Biar aku yang bicara, biar aku saja

Tolong diam dan dengarkan apa yang ku katakan

Jangan menyela bila ku bicara karena aku tak mungkin mengulangnya

Telah lama ku nanti saat seperti ini, hanya ada kau dan aku, terasing

Tak ada keramaian, tak ada kebisingan, hanya sepi dan sendiri

Tak ada kata-kata romantis, tak ada kata-kata munafik, jujur apa adanya

Telah jenuh ku memendamnya, terlalu sering ku menguburnya dan ku gali lagi

Sahabat, maaf bila ku harus berpisah denganmu setelah rangkaian waktuku bersamamu, dalam suka dan duka, dalam canda dan tawa

Karena kini aku yakin, rasa ini telah berubah, telah berganti

Sayangku padamu, kasihku padamu, telah tumbuh menuntun hatiku

Kini ku harus jujur, bila aku mencintaimu sebagai kekasih, bukan sahabat lagi

Dan ku harap kau kan mencintaiku seperti aku, menjadi kekasihmu bukan sahabatmu

Kini bicaralah, katakan apa yang harus kau katakan, jangan diam lagi karena

Aku telah selesai dengan inginku, mengatakan rasaku

Bicaralah jangan ragu, katakan padaku apa yang kau mau

Meski itu kan menyakitkanku, bicaralah sekarang karena ku tak ingin menunggu

Setelah lama ku menunggu…

nb. Katakanlah apa yang kau rasa..

usah takut..karena kau tak kan pernah tahu

sebelum kau mengatakannya..





Dilemma..

26 05 2008

Bila ‘ku mampu jujur, pasti akan ku katakan betapa aku menyayangimu,

Betapa inginku menyandingmu, tapi sayang semua itu tak mungkin

Ada yang lebih berarti dari itu, sebuah persahabatan yang tak kan ku dapat darimu

Kadang aku ingin kita menjadi dua manusia yang berbeda

Yang mampu mencintai dan memiliki tanpa kesalahan

Tahukah kau betapa sakitnya aku dengan semua ini?

Betapa derasnya hantaman dalam dadaku?

Sudahlah, usah kau pikirkan itu…

Jauh dalam kalbu ku tulis sajak harapan agar malaikat tahu

Betapa besarnya inginku untukmu,

Bukan ku pengecut, bukan pula ku munafik, selama kau mengerti

Aku pun merindukan bahagia, yang telah lama lupa denganku

Bahagia yang ku angankan ada padamu, pada diri kita berdua

Aku tahu, kau kan mengerti keadaan ini meski terlambat

Dan saat itu datang, kau semakin sadari betapa tulusnya aku menginginkanmu

Dan betapa sulitnya aku tentukan langkahku, pada dua arah yang berlawanan

Maaf bila ku memilih sahabatku, bukan dirimu yang ada disisiku

Cintai aku dengan apapun itu, caci aku dengan kata terhebat yang kau tahu

Dan tangisi aku dengan air matamu hingga kau temukan

Alasanku tak memilihmu…

Mungkin nanti, kita bersama dan bahagia di sana di tempat yang jauh

Hanya kau dan aku… bersanding di surga…

Seperti janji para penyair untukku…

nb. Sekali lagi, hidup itu pilihan

seperti juga cinta..terkadang pilihan itu

lebih sulit..tapi harus dipilih!