Kenapa aku jatuh cinta?

29 08 2008

Dia bertanya kepadaku dengan lembut..

“Apakah kau mencintaiku karena kecantikanku?”

Dan aku sekuat tenaga berkata bahwa aku tak seperti itu..

Hingga hatiku terasa begitu berat..

Dia berkata kepadaku dengan sangat lembut..

“Kenapa kau mencintaiku?”

Dan sekali lagi lidahku begitu sibuk mencari kata yang tepat..

Hanya tuk meyakinkan dialah orang yang tepat untukku..

Kemudian dia berkata dengan sangat-sangat lembut..

“Kalau begitu..jangan kau mencintaiku karena jawabanmu itu..”

Dan dia tersenyum..

Aku bertanya kepada diriku sendiri..

Bila aku benar-benar mencintainya..

Kenapa aku harus begitu berat mengatakan kejujuran yang ia pinta?

Bila aku benar-benar menginginkannya untukku selamanya..

Kenapa aku harus membiarkannya pergi begitu saja?

Dan kini aku sadar..aku hanya melihat dengan mataku..

Aku mencari cinta karena inderaku yang duniawi..

Aku tak melihatnya dengan hati dan jiwaku..

Bukankah itu sebaik cinta yang kita impikan?

Aku melihatnya sebagai makhluk yang sempurna..

Aku melihatnya sebagai orang yang begitu tepat untukku..

Dan itu membuatku mencintai dunianya saja..

Perempuan itu..yang begitu saja meninggalkanku..

Mengajariku arti cinta yang baru..

Tentang peluruhan jiwa dan jasad untuk jatuh cinta..

Karena cinta tak sesederhana itu..

nb. Pahami cinta dengan jiwa dan jasadmu..

Bukan karena indera duniawinya saja..





Cinta memilih kita..

29 08 2008

Hari masih pagi saat kau dan aku ada di stasiun itu..

Ku genggam erat tanganmu dan kau bersandar di bahuku..

Segurat keletihan tampak membasuh wajahmu yang ayu..

Denting kereta berjalan lambat..dan terlewat sudah batas kota..

Sesekali matamu menatapku..penuh cahaya..penuh bahagia..

Aku tahu semua berat untukmu..karena akupun merasakan hal yang sama.

Kau  bertanya apakah kita kan selalu bersama selamanya..

Dan ku hanya bisa memelukmu erat..aku tak tahu sayangku..

Sungguh dalam hatimu kau tahu betapa besar inginku untukmu..

Tapi kau juga sadari keberadaan mereka yang menentang kita..

Kereta kini susuri tepian bukit..lembah yang hijau..

Kau tertidur pulas mndekap mimpimu..di pelukku..

Sungguh wajah yang sempurna..kecantikan surgawi..

Kekasihku..andai aku bisa..andai aku sekuat itu..

Aku pastikan hanya ada kau dan aku saja..ke tempat berbeda..

Kereta berhenti di stasiun kecil di ujung bukit, kau terbangun..

Tersenyum menantapku manja..sebuah ciuman menyadarkanku..

Ini bukan mimpi..kau ada disampingku..bersamaku..

Kau begitu bahagia..tak henti-hentinya tersenyum dan memelukku..

Sebuah cincin kini melingkar manis di jarimu..

Cincin yang kan membawa kita ke kehidupan berbeda..

Meski kita harus memulainya dengan cra seperti ini..

Seorang wanita menawarkan secangkir kopi..kesukaanmu..

Dan kereta melaju menuju ujung yang lain..

Sebuah lorong panjang tentang harapan kita..

Yang aku tahu..aku mencintaimu kekasihku..

Dan aku kan selalu ada untukmu..

Aku bahagia..karenamu..bahagia..

nb. Cinta kan memilih jalannya sendiri..

Ia tak bisa dipaksakan arahnya..





Setelah hujan reda..

28 08 2008

Aku menyukai perasaan ini..

Aku benar – benar tenggelam dan hanyut dengan nuansa ini..

Kesejukan..kesucian yang meluruhkan egoku..

Butir air di pelupuk ranting yang basah..

Rerumputan yang begitu menyegarkan mataku..

Aku terbiasa berjalan..menghirup sisa pergumulan awan..

Di jalanan dan trotoar di antara pematang dan kali yang perawan..

Begitu hebat..aku seperti kembali ke masa kecilku..

Wajahku kan memuda, hilang sejenak kerutan di mata..

Kulitku bercumbu dengan embun yang dia lahirkan setelahnya..

Aku begitu menyukai saat dimana angin basah menerpa tubuhku..

Aku begitu menggilai perasaan saat ku terhanyut dikelembutannya…

Dan sesaat semua keresahan itu hilang..

Kesejukan yang aku butuhkan saat jiwaku tak menyatu..

Aku mencintai moment seperti ini..

Rambutku, pori-pori kulitku, sensitifku, dan amarahku..

Semua tertunduk..menikmatimu..

Kesegaran surgawi..

nb. Menikmati sesuatu yang sederhana..

Terkadang melahirkan sesuatu yang tak sederhana..





Musim dingin, Leningate..

28 08 2008

Pagi yang sunyi..

Aroma musim dingin begitu berat..

Ilalang tumbuh dan bercumbu dengan dinginnya angin gunung..

Aku terduduk, menikmati setiap sisi jasad yang mengigil.

Pagi ini, pertama kalinya aku nikmati musim dingin di Leningate

Semangkuk gandum telah membeku menjadi batu

Aku terdiam di sudut pondok tanpa perapian,

Setumpuk surat, foto dan kenanganmu ku tatap lekat

Andaikan aku datang lebih awal, mungkin semua kan berbeda..

Mungkin saat ini kita berpeluk rindu dalam hangat buaian,

Kekasihku, biarlah musim terganti..

Biarlah salju mensucikan jasad dan deritamu,

Dan aku kan menjagamu, aku kan merawatmu,

Biarlah bukit memelukmu, biarlah rerumputan musim semi menyelimutimu,

Dan aku kan menaburkan eidelweis di sepanjang makammu..

Burung-burung kan berkicau menyambutmu di surgamu,

Aku selalu bersamamu..percayalah..

Meski kau tak sempat melihatnya..

Aku ada disini..disisimu..selamanya..

Tak ada lagi yang memisahkan jiwa kita..tak juga mereka..

Yang merenggutmu dariku..

Aku kan selalu bersamamu..

Kekasihku..

nb. Kematian tak kan menutup perasaan..

Ia hanya pintu abadi untuk mereka yang mengerti..