Belum terlambat untuk kita.. -e.m.b.r.i.o

13 07 2009

Tepi Barat Jakarta. Setelah hujan reda.

Malam makin larut. Sepeda motor ku pacu lebih cepat karena takut akan terlalu malam sampai di rumahmu. Sedangkan kau, begitu erat memelukku. Bersandar dalam tatapmu yang kosong. Dingin.

“Sayang, pelankan laju motormu..” katamu.
“Baiklah..” jawabku sambil menggenggam erat jemari tanganmu.

Udara makin dingin. Kau memelukku makin erat, entah karena dingin, atau memang kau tak ingin melepaskan pelukanmu dariku. Jalanan mulai lengang.

“Maaf ya..” bisikmu lirih.
“Sudahlah..bukankah tadi sudah ku katakan kepadamu? Kita akan tersenyum.. Aku akan bahagia dengan caraku, seperti kau bahagia dengan caramu..” jawabku datar. Hati ini masih terasa begitu sesak.
“Aku tahu..” ucapmu sambil melingkarkan tangan ke tubuhku, memeluk seakan merantaiku dengan erat.
“Makasih..” kataku sambil berusaha menghindari lobang di jalan.
“Akan ada perempuan yang baik untukmu, perempuan yang memberimu bahagia, yang akan selalu ada dan berjuang untuk apapun yang kalian yakini.. tidak sepertiku..”
“Sudahlah..kalau pun ada, biarkan kelak ia datang sendiri.. Saat ini aku tak ingin membahasnya, biarkan aku lewati malam ini denganmu..terakhir kalinya.” kataku sedikit kesal.

Hujan datang lagi. Kali ini begitu deras.
“Kita harus berteduh..” kataku.
“Tidak..jalan terus saja..Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu”
“Kau baru saja sembuh..aku tak ingin kau sakit lagi..tolong..”
“Ijinkan aku menikmatinya bersamamu..tolong..”
“Baiklah..”

Sepeda motor ku laju tak terlalu cepat, takut terjatuh karena jalanan yang licin. Kau memelukku begitu erat hingga degupan jantungmu dapat ku rasakan dengan jelas, jemarimu yang lembut menggenggam erat jemariku yang rapuh.

“Aku mencintaimu..” tiba-tiba kau bisikkan kata itu. Kata yang hampir tak pernah ku dengar keluar dari bibirmu, bahkan untuk siapapun lelaki yang pernah hadir dalam hidupmu. Kata yang menurutmu hanya bisa kau katakan pada mereka yang kau yakini. Kini, kau mengatakannya padaku, saat semua tak lagi satu arah.
“Aku pun mencintaimu..sangat mencintaimu..” bisikku lirih. Dari kaca spion motor ku lihat kau menangis, air matamu menyatu dengan hujan. Dan aku, makin terdiam dalam dinginnya hatiku sendiri.
“Maukah kau berjanji padaku?”
“Apa yang ingin kau dengar?” tanyaku.
“Berjanjilah kau tak kan pergi dari peperangan hidupmu.. Berjanjilah kau kan wujudkan mimpimu.. Berjanjilah padaku..”
“Aku sudah tak punya perang lagi.. Aku pun tak punya mimpi..apa yang harus aku janjikan kepadamu?”
“Tidak, aku yakin kau kan wujudkan mimpimu, mimpi kita tentang keluarga dan rumah..seperti yang selalu kau katakan padaku..Aku hanya ingin mendengarmu berjanji akan mewujudkan mimpi kita itu, meski mungkin tak bersamaku..”
“Mimpi itu ku bangun untukmu.. Aku tak bisa mewujudkannya untuk orang lain..”

Air mata itu makin deras. Pelukanmu masih erat mendekapku. Tak menyisakan celah untukku bernafas.

“Bawa aku pergi..”
“Maksudmu?” tanyaku kaget.
“Kau mencintaiku?”
“Ya, lalu?”
“Kalau begitu bawa aku pergi..”
“Tidak, aku tak akan lakukan itu..”
“Kalau begitu kau tak mencintaiku..” katamu sambil melepaskan pelukan.
“Tidak, aku mencintaimu..sungguh..tapi

kita tak bisa seperti itu..”
“Aku ingin seperti itu..aku ingin hidup bersamamu, seperti apa pun kita!”
“Aku tahu..tapi cobalah berpikir dengan logika..”
“Kau bandingkan cinta kita dengan logika? logika seperti apa? apa kini kau menyerah?”
“Tidak, aku tidak pernah menyerah!”
“Kalau begitu bawa aku pergi!”

Aku hanya bisa terdiam. Kecamuk di dadaku melebihi genderang perang yang pernah ku tabuh dulu.
Perlahan ku tepikan motorku, dan berhenti di sebuah halte yang sepi.
“Kenapa berhenti?”
“Aku ingin bicara..”

Sepeda motor ku parkir di tepi jalan, dan aku menuntunnya ke halte. Duduk. terdiam.
“Kenapa kau diam?”
“Apa kau mencintaiku?” tanyaku.
“Iya..kau sudah tau itu, kenapa kau bertanya?”
“Apa kau mencintai keluargamu?”
“Ya..tentu”
“Dengan pergi bersamaku,apakah kau sudah memikirkan akan seperti apa keluargamu?”
“Kau pernah bilang akan berjuang untuk sesuatu yang kau yakini dalam hidup.. kau berjuang untukku meski kau sadar itu membuatmu terluka..lebih dari yang pernah kau rasa sebelumnya.. tapi kau tetap berjuang, kau melawan semua pedih itu untukku..”
“Lalu?” kataku memotong.
“Kali ini, aku ingin berjuang untukmu..”

Kata-kata itu menyentak jiwaku hingga seakan-akan ingin loncat keluar dari jasadku.
“kau sudah berjuang untukku dengan ada di sini..itu lebih dari cukup untukku”
“ada apa denganmu? Setelah semua yang kita lalui kau ingin berhenti??”
“Tidak, ini tidak hanya tentang kita..cobalah kau pahami..”
“kau pengecut!” teriaknya sambil menangis.

Aku makin merasa bersalah. Perlahan ku peluk erat tubuhnya yang mulai mengigil. Perasaan nyaman mulai hinggap dan menjalar ke seluruh tubuhku.
“Kita tak harus pergi dan lari dari kenyataan ini bila kau mau jujur pada dirimu dan pada semua orang..bahwa kau mencintaiku..” kataku lirih.
“kini kau menyalahkanku?”
“Tidak..bukan seperti itu, maksudku, semua ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik. kalau kau mencintaiku,katakan kau mencintaiku seperti yang tadi kau katakan kepadaku, katakan itu ke semua orang yang ada dalam perang kita..”

Hening. Suara rintik hujan mulai perlahan pergi.
“kau benar..” katamu lirih.
“aku hanya ingin kau mengerti..aku mencintaimu dan ingin semua ini berakhir dengan baik..”
“maafkan aku..aku hanya tak ingin berpisah darimu..aku tak ingin semua ini terlambat ketika aku sadar aku mencintaimu..aku membutuhkanmu dalan hidupku..”
“kalau begitu katakan sekarang..semua belum terlambat..”
“Apapun yang terjadi..kau kan bersamaku?”
“Aku tak kan pernah berhenti berjuang untukmu..” kataku lirih.
“Kuatkan aku saat ku rapuh..” katamu.

Aku memeluknya makin erat. kali ini jiwa kami bersatu. Meninggalkan jasad kami yang terduduk mengigil di sepinya malam entah sampai kapan.





Hitam -e.m.b.r.i.o

9 07 2009

Dua hari setelah kau pergi.

Sore hari Kota Lama.
Jakarta semakin sesak! Atau karena hatiku sedang gelisah hingga semua seperti masuk mengerubuti nuraniku? Menjilat semangatku dan mengubur semua mimpiku! muak.
Dan kau! Kenapa semua yang terlihat hanya tentang kau! Kau!

trrtt,,,trrrttt..handphone

ku bergetar. Menggelitik saku celana yang memang sudah mulai terlalu ketat.
Ah, nama yang sangat ku rindukan. Tapi, biarkan sajalah. Toh aku tak lagi bisa mengertikannya.

trrtt,,,trrtttt,,handphoneku bergetar lagi. lagi. lagi. sepuluh kali.

“Hi..” sapaku lirih. muak.
“Hi..kau dimana?”
“Masih di sini..kau tau dimana aku dan tak usah berpura-pura tak tahu.” jawabku ketus. makin muak!
“Aku ingin kita bicara baik-baik..”
“Untuk apa? Untuk sekali lagi menikam hatiku? Untuk sekali lagi menyayat harapku?”
“Bukan..bukan seperti itu..tolong dengarkan aku dulu..”
“Maaf..aku ingin sendiri dulu..menikmati kematian ini.”

handphone mati. terdiam. sesak.
Aku berjalan, letih dan menggigil. Trotoar beralas kotoran ini makin benamkan aku pada lubang pasir hitam yang menyerap segala kesadaran. Tak ada jejak. Tak ada sesal. Sesekali aku biarkan angin menggerogoti kenangan, dan langit menelan wajahnya.

38 missed call. 13 new message. hanya tulisan itu yang tertera jelas di layar handphoneku. dan aku tahu itu siapa. muak!
Lorong selatan, museum Fatahilah. Aku terduduk. Tersudut. Merangkum semua getirku dan menuliskannya di lembar takdirku. Tentang aku yang selalu kalah.

“Hey! Bangun!”
“Oh, kau siapa?” tanyaku.
“Aku takdirmu! Bangun!”
“Bagaimana aku tahu dan yakin? Bisa saja kau menipuku?” balasku. Tubuh ini mengigil. bergetar!
“Apa yang ingin kau ketahui? Sedangkan aku tahu kau selalu seperti ini saat kalah dalam perang! Menghunus pisaumu dan meletakkannya tepat di leher tanpa pernah kau mengirisnya, kalau kau ingin mati, lakukan saja!” tiba-tiba dia membentakku. semakin galak!
“Kau menantangku? Baiklah..” jawabku. marah.
“BODOH!” teriaknya keras hingga telingaku bergema. hitam. pudar.
“Sekarang kau bilang aku bodoh? Sudahlah, aku pun tak perduli denganmu, kalau kau Takdir, seharusnya kau tahu kenapa aku begini, pergilah..aku ingin sendiri..!”
“Baiklah aku pergi, aku hanya ingin memberitahumu, aku punya kejutan..” dan dia pergi. terbang. menghilang.

aku masih saja terduduk. malam. kelam.
trrtt..ttrrrttt.. handphoneku bergetar lagi. 39 missed call. kemudian 40 missed call. 45 dan aku tertidur.

pagi. ramai. sesak.
Aku terbangun, terjaga dari tidurku dan mimpi yang menakutkan. Hey, kenapa di bawah sana ramai sekali? Beberapa orang berkumpul, panik, mengerubuti jasad yang terbujur kaku. mati. Aku seperti mengenal jasad itu, dan perempuan yang menangis di sudut lorong itu, aku pun mengenalnya!
Itu aku, yang terbaring dan dikerubuti seperti bangkai! Dan itu kamu! Ya, kau yang berdiri menangis di lorong itu..tapi..

“Kau telah mati!” tiba-tiba Takdir kembali datang.
“Kau mengagetkanku saja! Tidak, aku belum mati..dan lihatlah..aku masih di sini, berbincang denganmu!”
“Kau sudah mati!” kali ini ia berkata sambil matanya melotot seperti ingin keluar.
“Tidak..tidak..aku belum mati!”
“Itu jasadmu..ragamu yang rapuh dan pengecut! Dan perempuan itu, bukankah dia perempuan yang membuatmu seperti ini? Dia ada disini semalaman! Mencarimu di antara pekat dan gelapnya sudut kota!”
“Tunggu..apa maksudmu dia mencariku?” tanyaku.
“Dia mencarimu..dia berjuang untukmu..dia memilihmu!”
“Untukku? Memilihku? Apa maksudmu?” tanyaku sekali lagi.
“Tahukah kau apa yang terjadi dengan takdirnya? Dia berani berjuang dan melawan semua peperangan yang ada, tidak sepertimu! Lari dan sembunyi kemudian mati.”
“Tapi..” ingin rasanya menangis. tapi tak bisa!
“Ya, kau menyerah tanpa pernah berperang..”

hening. kosong.
Aku terbang, memeluk perempuanku. tapi tak bisa. sedangkan aku tahu, detak jantungnya begitu keras tiap dia sebut namaku. air matanya begitu deras tiap dia belai kenanganku.

“Andai kau tahu..dan mau bersabar.. Maafkan aku sayang..” bisiknya lirih.
“Tidak..aku yang harus meminta maaf, aku yang salah! Tidak, kau tak boleh meminta maaf..” kataku.

dia tak mendengar. dia menangis.
“Sayang! Dengar..aku disini! Hey, lihatlah..aku di depanmu! ” teriakku sambil menari. dia masih terdiam.
“Selamat jalan sayang..semoga kini kau temukan bahagiamu di surga..”

aku terdiam
Langit makin terang. Orang mulai pergi. sepi. dan perempuanku, berjalan rapuh, kosong.





Tentang Mimpi -e.m.b.r.i.o [I]

2 07 2009

ini tentang mimpi.
Tepi danau, sisi bukit, dan cemara yang memagari pekarangan. Rumah mungil beratap cerita, dinding kayu yang kau ukir dengan harapan, di situlah kita tinggal. Di tempat ini kelak anak-anak kita dan juga cucu-cucu kita kan berkumpul, bersenda gurau dan mengenang tiap waktu yang terjalani. Di pekarangan belakang itu akan ku buat kebun, yang kan kau tanami dengan pohon cinta seperti yang selalu kau bilang padaku tiap malam, sebelum kau tertidur. Darinya cinta kita kan terus tumbuh, darinya cinta kita kan berkembang dan tak layu. Tiap sore kan kita sirami dengan kejujuran, kasih sayang dan juga impian.
Di halaman samping itu kelak kan ku buat tempat bermain untuk anak-anak kita, sebuah kolam kecil, dan juga rumah pohon. Bukankah itu yang kita impikan?

“Sayang,aku suka..” katamu manja, memelukku dan tak ingin lepas.
“Ini tak kan berarti, tanpa kau..” bisikku sambil mengusap segala getir yang terlihat di antara kerutan kantung matanya yang mulai rapuh.
“Tidakkah kau lihat? Anak-anak kita berlari dengan riangnya, menendang angin dan melompat! Di tepi danau itu aku akan melukis, merangkum semua bahagia yang ada, dan kau..diam saja di teras rumah, menikmati teh hangat kesukaanmu..” ujarmu bersemangat, hingga matamu berbinar, menerawang jauh.
“Hey, aku tak kan berdiam saja di kursi tua itu..aku akan mengajak anak-anak susuri hutan, aku akan mengajari mereka mengenal alam, berenang di danau dan kau melukiskannya..”
“Hahaha..iya, kau memang ayah yang hebat..dan suami yang hebat pula! aku bahagia..”

terdiam.kosong.
“Peluk aku lebih erat..” pintamu, menatapku sayu, dan aku mengerti dalam tatap itu kau mulai meragu.
“Bersabarlah..aku tak kan pernah lelah berjuang untukmu, aku tak kan pernah berhenti mengejar mimpi itu. Esok semua kan mengerti, cinta kita tak serapuh dahan keraguan, cinta kita sekuat tiang kesabaran..” ujarku mencoba memberinya semangat, seperti hari yang lalu.
“Sampai kapan? Sedangkan kau tahu mereka menutup semua pintu untuk kita..”
“Tidak, karena kita akan membuat pintu sendiri..dan hanya kita yang punya kuncinya..” jawabku sambil mengecup pelan keningnya.

tersenyum.berharap.
“Terima kasih sayang..”

Mimpi itu masih saja tergantung di langit. Terkadang terlihat rapuh dan akan jatuh, hingga ku harus menjaganya sepanjang waktu. Tapi, ini bukan sekedar mimpi. Ini adalah doa. Tentangku, tentangmu, tentang kita. Saat ini.