Aforisme: Catatan Sang Penyair – bagian 1.


image

Setiap malam datang, berulang kali kunang-kunang itu hadir. Hanya satu, sendiri, namun tetap memendarkan cahayanya yang kuning keemasan. Terbang dari balik semak-semak yang berada tak jauh dari jendela kamarku, lalu merendah hinggap di ujung rerumputan atau sesekali di ujung kayu jendela. Aku tak tahu kenapa ia sendiri, ke mana lainnya? Kenapa dia sendiri? Apa dia tersesat? Kenapa dia memilih menemuiku? Aku tak pernah tahu jawabannya.

Sampai akhirnya malam ini, usai hujan deras turun sepanjang hari, kunang-kunang itu datang lagi. Ia terbang rendah, menari sejenak sambil terus pendarkan cahayanya lalu hinggap di ujung kayu jendela kamarku. Aku hitung ini malam ketujuh, atau mungkin kedelapan aku tak tahu pastinya. Malam ini aku hanya tahu satu hal, kunang-kunang itu tak akan datang tanpa maksud tertentu.

Dua puluh tahun lalu, usiaku tujuh tahun. Hidup di sebuah kampung kecil di kaki bukit Gunung Slamet. Namaku Kastrimo, orang-orang memanggilku Trimo, atau lebih sering dengan sebutan ‘Cungkring’ karena tubuhku kurus. Kulitku coklat terbakar matahari, dan rambut tipis seperti rumbai bunga jagung muda. Setiap hari tak ada yang lebih menyenangkan selain mandi di sungai yang airnya berasal dari sebuah mata air di lereng bukit. Seperti anak lainnya, kami tak peduli apa yang akan terjadi esok hari, kami hanya tahu bermain. Di kampungku hanya ada satu sekolah, atau lebih tepatnya disebut pondok yang memuat sembilan anak seumuranku. Aku salah satu yang belajar di pondok itu. Ukurannya tak besar, terbuat dari kayu seperti rumah biasa hanya saja tak ada sekat atau dinding pembatas. Seperti bangunan pendapa rumah joglo yang hanya memiliki atap saja. Di sekeliling pondok itu terdapat rimbun pepohonan bambu, dan sebuah sungai kecil yang begitu jernih airnya. Di sungai itulah kami sering mandi, bercanda setelah seharian belajar ilmu agama dan juga ilmu lainnya termasuk silat. Tak ada yang melarang, tidak juga Kyai Ahmad yang menjadi guru satu-satunya di pondok, atau orang tua yang rata-rata sibuk bertani.

Kampung Nagageni, ada di kaki bukit Gunung Slamet. Dibatasi hutan kecil dan ladang serta sawah. Satu-satunya kampung terdekat jaraknya sekitar 3 kilometer. Tak ada listrik, jalanan masih tanah terjal yang berubah selicin belut usai hujan turun. Kau bisa mendengar suara burung saat terjaga dari tidurmu, atau riuhnya suara-suara dari dalam hutan saat petang mulai datang.

Dari semua itu, ada satu hal yang sebenarnya membuatku penasaran. Aku tak pernah tahu siapa bapakku. Aku tak pernah melihat wajahnya, tak pernah mendengar suaranya. Orang-orang bilang bapakku dulu seorang pendatang dari kota besar, lalu hilang tanpa kabar sebelum aku lahir di dunia ini. Ada yang bilang bapak mati dibunuh perampok di hutan lalu mayatnya dimakan binatang, ada yang bilang bapakku pergi karena menikah dengan anak lurah dari kampung lain, ada pula yang bilang aku tak punya bapak, aku anak yang lahir karena ibuku menikah dengan Raja Jin penguasa Gunung Slamet. Aku tak pernah percaya semua cerita itu.

——————- bersambung.

Novanka Raja.

Mungkin Ini Jalan Kita


image

Kita sering kali berpikir Tuhan akan selalu menunjukkan jalan, selalu mengabulkan doa-doa bagi kita yang memohon penuh ratapan padaNya. Namun, pada akhirnya kita mengerti tak semua hal harus dikabulkan sesuai doa dan pinta kita.
Aku tahu kita sudah begitu hebat berjuang bersama. Kita yang tak peduli betapa sakit dan pilunya hati melawan segala dogma. Kita yang hanya bisa saling menggenggam jemari. Saling mendoakan di sunyinya malam hingga lupa makna kesendirian.
Kita pernah saling menopang, saling bersandar saat raga begitu rapuh, saat jiwa begitu lelah menahan derita. Pada akhirnya kita pun pernah saling ingin melepas karena itu satu-satunya jalan dan pilihan yang tersisa.
Kita sibuk mencari pembenaran, sibuk menyakiti diri sendiri. Kita memilih hanyut susuri sungai kehidupan penuh duka. Kita hanya mampu saling memandang, lalu meratap pada takdir yang tak juga datang membela kita.
Ada waktunya kita hampir menyerah, raga dan jiwa hancur remuk penuh lobang kesengsaraan. Namun, kita tak pernah benar-benar menyerah. Sehebat apapun alasan yang kita buat, kita masih tetap berdiri. Kita masih menautkan jemari, tak peduli pada bisingnya jarum nestapa yang terus berdesing tiada henti.
Aku percaya, kelak kita akan memahami kenapa Tuhan mempertemukan kita, atau kenapa Tuhan tak segera menyatukan kita. Aku percaya meski jasad kita sudah hancur mendebu, jiwa kita akan terus berdansa.
Karena aku tahu, kaulah aku yang menjelma perempuan, dan akulah kamu yang merupa lelaki. Kita, adalah bumi yang sama, langit yang sama. Kita adalah cahaya semestaraya yang berpendar tak pernah pudar. Jika bukan di kehidupan ini, maka kita akan bersama di kehidupan nanti.

Untukmu, perempuanku.

Dariku,
Lelakimu.

Ketakutan yang Memburumu


image

Ada banyak hal yang mungkin membuat kita merasa takut. Ada yang takut esok tak bisa menikmati makanan, ada yang takut esok tak lagi bekerja, ada pula yang takut menghadapi sebuah masalah atau ujian. Namun, ketakutan terbesar manusia sesungguhnya adalah rasa takut ditinggalkan atau meninggalkan.

Kita, mungkin masih mampu menghirup napas, mampu berbincang, mampu berkumpul dengan orang yang kita sayangi. Siapa yang tahu jika esok kita ditinggalkan atau meninggalkan orang yang kita sayangi?

Meninggalkan atau ditinggalkan adalah hal yang sungguh teramat pedih. Kita tak tahu kapan waktunya itu terjadi. Sedikit dari kita yang memikirkan hal ini, bahkan mungkin banyak yang berharap kita akan selamanya bersama orang yang kita sayangi. Namun, kita tetaplah manusia. Kita, selalu memiliki batas waktu di dunia.

Kepedihan paling duka hadir saat membayangkan apakah kita sudah membahagiakan orang yang kita sayangi sebelum waktu kita habis di dunia. Ataukah kita selalu memberi derita? Membuat orang yang kita sayangi terus menangis. Kita pergi dengan duka, kita pergi mewariskan derita. Selama hidup kita hanya membawa masalah, kita tak sadar betapa sabar dan penuh pengorbanan orang yang hidup bersama kita selama mendampingi hidup kita di dunia.

Saat ini, engkau masih bisa membaca tulisan ini, entah esok atau lusa, atau kapan pun tak akan ada lagi coretan sederhana yang mampu kau baca lagi. Engkau hidup di alam berbeda. Alangkah pedih sekiranya dari alam berbeda kita melihat orang yang kita sayangi menderita setelah kepergian kita, semua oleh sikap kita semasa hidup.

Tulisan ini bukan untuk menghadirkan ketakutan dalam dirimu, namun menampar diri kita agar sadar pada satu kenyataan. Sudahkah kita membahagiakan mereka? Sudahkah kita menyiapkan bekal untuk mereka? Sudahkah kita menjadi pribadi yang baik untuk mereka? Dan jauh lebih dari itu semua, sudahkah kita menyiapkan bekal kita sendiri sebelum waktu benar-benar habis di dunia ini.

Saudaraku, sahabatku, aku mengajakmu untuk kembali merenung, kembali menapaki jalan yang sudah kita lalui. Semoga, kita akan bahagia saat meninggalkan orang yang kita sayangi, dan terus memberi bahagia saat kita ditinggalkan orang yang kita sayangi.

Salam,
Novanka Raja.

Jangan Menutup Pintu Hatimu


image

Kita hanya manusia biasa, tak mampu menerka datangnya duka pun bahagia. Kita, selalu mencoba mengerti, mencoba memahami, hingga akhirnya terkapar ditimpa pahitnya kenyataan. Namun, begitulah hakikat diri yang sungguh rapuh. Kita hanya bisa mempersiapkan diri, pada bahagia pun derita yang datang.

Jika ada derita paling pedih, itu pastilah hati yang sunyi. Hati yang setiap sudut dindingnya penuh lumut kesuraman, keheningan, dan coretan doa dosa yang menghitam. Satu hal paling sering menjadi sebab sunyinya hati adalah hilangnya cinta yang menjadi penerang, warna, juga angin gemuruh di hatimu.

Kita, mungkin pernah merasakan duka. Menangis tanpa henti karena patah hati. Kita mengutuk dan meratapi diri, bersumpah menutup pintu hati untuk siapa pun. Benarkah bahagia hadir saat kita melakukan itu??

Cinta akan selalu datang tanpa kita tahu kapan dan siapa. Meski kau menutup hatimu, menguncinya begitu rapat, ia akan mengetuk dan menghancur leburkan dadamu hingga berserak. Cinta akan terus memanggilmu dengan teriakan yang memekakkan telinga, juga desir yang dinginnya bekukan urat nadimu.

Jangan tutup hatimu, bahagialah. Cinta yang pernah meruntuhkan hidupmu, adalah cinta yang sama yang akan membuatkanmu istana di langit juga bumi. Cinta bukanlah manusia, bukan dia atau mereka, cinta itu, adalah cahaya dalam dirimu. Terangi hidupmu, warnai harimu, lalu bahagialah karena kau sungguh layak bahagia.

Salam,
Novanka Raja.

Yang Sempat Melukaimu


image

Ada masa dimana air mata tak akan lagi mampu menenggelamkan duka. Masa dimana kita begitu pedih dan perih melukai orang yang kita cintai. Sekiranya hidup mampu mengulang, demi apapun yang kita miliki pasti kita rela menukarnya untuk memperbaiki kesalahan.

Aku, atau mungkin kau pun begitu, tentu saja tak selalu mampu hadirkan senyuman untuk orang yang kita cintai. Kita pernah membuatnya begitu terpuruk, begitu perih meresapi sayatan yang kita perbuat. Ia yang semestinya bahagia, ia yang mengorbankan segalanya asal kau bahagia, dan ia yang justru kau beri derita begitu hebat, adalah alasan kenapa kini kau harus bekerja keras mengembalikan rasa percaya dan layak dicintai.

Mungkin, dulu kita terlalu percaya diri, terlalu berani mengambil resiko, mempertaruhkan setia pada sebuah dadu kehidupan. Kita yang merasa aman dan benar dengan segala alasan, sesungguhnya sedang perlahan menyiksa orang yang sangat mencintai kita melebihi cinta pada dirinya sendiri.

Engkau yang pernah membakar setia, engkau yang merasa semua baik-baik saja, tak semestinya hidupmu bahagia. Satu-satunya jalan menebus kesalahanmu hanyalah menyerahkan segala hidupmu untuk membahagiakan dia yang pernah tenggelam dalam kubang derita karenamu. Belum terlambat selama napas masih ada, selama mata masih bercahaya.

Bahagiakanlah dia yang pernah terluka karenamu, bahagiakanlah dia yang begitu tulus mencintaimu, meski tubuh dan jiwamu remuk dihantam waktu.

———————————
Jakarta, 26 Aug 2015.
Untuk perempuan yang darinya aku bermula.

Rumah Kesunyian


image

Saat hidup terasa penuh kemuraman, adakah hal baik yang tersisa? Aku sering berbincang, tentang mereka yang terpuruk atau merasa begitu sunyi hidup mereka. Bahkan tak jarang orang yang kita anggap begitu bahagia ternyata juga menyimpan kemuraman dalam hidup mereka.

Apakah salah jika kita memilih menikmati kesunyian dalam hidup? Tentu saja tidak. Meski, memilih kehangatan dan ramainya hidup tentu jauh lebih baik. Sebagian kita terlalu memaksakan diri untuk terlihat bahagia. Kita lupa pada jiwa-jiwa yang menangis, hati yang luka, dan rasa yang hambar tertutup kemunafikan.

Masalah dalam hidup adalah teman sejati. Selama kita masih hidup, selama itu pula kita merasakan hadirnya masalah, dan tentu saja ini berlaku untuk semua orang. Jadi, bukan kau saja yang kini sedang menghadapi masalah.

Banyak orang meminta kita tersenyum, namun tak mengajarkan kita cara menyeka air mata. Kesunyian adalah rumah paling nyaman. Tak ada hal selain sunyi itu sendiri. Sejenak tinggal di sana, menikmati alam sunyimu, mengenal Tuhanmu, jauh lebih baik dibanding seribu tawa palsu di ramainya kehidupan ini.

Kau yang sedang bersedih, masuklah ke rumahku, tempat paling sunyi agar kau tahu masih ada Tuhan bersamamu. Masuklah ke hatimu, diam sejenak lupakan segala gelisah. Kau tak harus tertawa, cukup nikmati semua air mata yang membanjiri palung hati. Setelahnya, sambut matahari, jadilah pribadi yang hangat penuh semangat.

Apapun, kau layak bahagia, bahkan jika kau memilih tinggal di hatimu, berteman sunyi abadi.

Ada aku, juga mereka yang juga sepertimu, bahagialah.

Sebatang Rokok Tanpa Abu


image

Sebatang Rokok Tanpa Abu

Kita duduk berhadapan, aku yang merajam pilu dan kau yang mengoyak sepi. Tanpa bicara atau kata-kata penuh kemunafikan. Kita sibuk menari tanpa musik, berjingkat menyerupa belalang sembah yang pikun.

Sebatang rokok singgah di bibirku saat kau sibuk merutuki nasib. Asap tebalnya menutupi wajahku wajahmu yang penuh gurat air mata. Sebatang rokok tanpa abu. Seperti kisahmu yang sempat kubaca dari dada yang remuk.

Kita berdua terlalu sibuk. Aku lelaki, kau perempuan. Kenapa tidak menikah lalu jalani hidup seperti manusia lainnya. Kita berhadapan tanpa sempat berbincang. Sebatang rokok tandas dari bibirku tanpa abu.

Biar Tuhan yang bicara

Aku tak yakin kau benar-benar bicara tentang Tuhan setelah begitu pedih hidup tanpa bahagia. Biar kugenggam jemarimu atau kutampar pipimu hingga kau terjaga. Kita berdua seperti sebatang rokok tanpa abu.

Sudah kurajam pilu seperti kau koyak sepi dalam dadamu yang remuk. Kita anak-anak langit yang dibuang. Seperti sebatang rokok tanpa abu. Mari genggam jemari lalu menari hingga lupa diri.

Biar Tuhan yang bicara.

======================
Novanja Raja, 15 Aug 2015.