Menuju Pulang


Segala yang terjadi dalam hidup ini adalah perjalanan menuju pulang. Segala getir yang datang akan selalu berganti bahagia, segala duka yang hadir akan selalu berganti tawa. Jangan berhenti, tetaplah jalani meski dua hati berjarak rindu, meski dua mimpi berbatas pagi.

Jalani dan temukan makna hidupmu, jangan sesali, terus melangkah dan bahagialah engkau di akhir perjalananmu, rumah abadimu. 

Advertisements

Surat Kecil Untuk Rumi


Bismillahirohmannirohim, 

Anakku, ananda Rumi. 

Ayah sudah membaca suratmu, dan inilah pertama kali ayah membaca tulisanmu, tulisan pertamamu. Ayah jujur sangat bangga, juga sangat sedih karena ayah tahu surat ini hadir sebagai salam terakhir darimu.

Anakku, tentu saja ayah masih mengingat semua yang engkau tuliskan itu. Ayah masih mengingat setiap jengkal jalan yang kita lalui bersama dengan motor tua milik ayahmu ini. Atau bagaimana tempe gosong yang tetap kau bilang sangat enak rasanya dan tumisan kangkung yang ayah masak seadanya untukmu juga ibumu. Ayah masih ingat semuanya itu dan sungguh ayah tak sanggup menahan retakan kesedihan yang memenuhi hati ayah saat membaca semua itu.

Ayah masih mengingat jelas bagaimana kau dan abang kadang saling bercanda. Abangmu sengaja sering membuatmu menjadi cengeng, ia hanya ingin menggodamu dan membuatmu lebih kuat hadapi cobaan jika ayah bertanya kenapa abang membuatmu menangis. Ayah masih ingat abangmu juga begitu bertanggung jawab, pandai memanah, cerdas, tangkas dalam bela diri juga ilmu agama. Ayah masih ingat bagaimana abangmu korbankan dirinya karena kebohongan yang ayah lakukan pada bunda. Ayah masih ingat semua itu, anakku, termasuk pesan dan harapan ayah saat engkau akan belajar di padepokan. Ayah masih jelas mengingat harapan ayah dan bagaimana ayah katakan bahwa kelak engkau akan menjadi orang bijak penuh ilmu, lelaki yang akan menerangi semesta dengan cahaya pengetahuanmu.

Tentang kakak perempuanmu, sungguh rumit ayah menjelaskannya. Namun ayah mengingat hal baik yang ia hadirkan dulu saat bersama kita. Ia yang sangat lincah dan mengajak Rumi bermain di istana, dia yang selalu ingin tahu, dan dia yang tak jarang membuat uyut kerepotan. Bagaimana pun dia pernah menjadi bagian dari keluarga kita, meski kini memilih jalan berbeda. Ayah tak membenci, hanya saja bersedih kini kakak perempuanmu itu memilih jalan berbeda. 

Kesalahan yang ayah lakukan amatlah besar. Niscaya kebaikan seumur hidup ayah pun tak sanggup menebusnya, hanya maaf dari bunda dan kalianlah yang mampu membuat kesalahan ayah terampuni. Kesalahan berulang, terus menerus, pada akhirnya membuat ayah kehilangan semuanya. Kehilangan abang, bunda, kakek di kampung dan juga engkau, anakku. Sungguh besar dosa dan kesalahan yang ayah lakukan karena nafsu dan amarah. Kalian menanggung duka derita dan pengorbanan yang amat besar, yang tak pantas untuk seorang lelaki seperti ayah.

Ayah memang tak bisa mengulang waktu untuk perbaiki semuanya. Penyesalan menjadi pisau yang mengiris pelan leher ayah, perih dan pedih rasanya. Kehilangan begitu besar yang tak semestinya terjadi jika ayah mampu bersabar sesaat. Surat yang kau tulis ini, membuat ayah makin menyadari betapa berharga dan berarti sebuah keluarga. Betapa mahalnya harga yang harus ayah keluarkan untuk sebuah kesenangan semu yang menyesatkan.

Maafkan ayahmu ini, lelaki yang kini berharap Allah memberi hidayah sepanjang sisa umurnya. Menguatkan hati untuk terus menuju jalan yang Allah ridhoi, bukan jalan yang Allah laknati. Ayah sadar, semua sudah terlambat. Namun ayah berdoa, selalu berdoa, agar engkau dan ibumu selalu dilimpahi kebahagiaan dan kesehatan. 

Jalan taubat memang berliku, mungkin ayah bisa saja terperosok kembali pada jurang yang lebih dalam, atau ayah berhasil melaluinya. Semua akan percuma jika hanya kata-kata dari tulisan atau bibir ayah. Semoga kelak, engkau anakku, adikmu, kakakmu, dan terutama ibumu, mendapati ayah sebagai orang yang bersabar dan berada di jalan yang lurus, jalan kebenaran menuju ridho Gusti Allah, dan semoga Allah masih memberi kesempatan agar ayah kembali bersama kalian sebagai sebuah keluarga yang utuh.

Surat darimu ayah simpan, akan selalu ayah pajang dan kenang sebagai nasihat terbaik dari anak yang sangat ayah sayangi. Terima kasih, maafkan ayahmu ini anakku. 

Dariku, lelaki yang berharap ampunan dan bimbingan menuju kebaikan.

Catatan Sang Pendosa – 2


Ada banyak hal yang mampu membuat kita tersenyum, salah satunya kenangan. Aku mengerti kenapa aku tersenyum, semua karena hadirmu. Aku belajar untuk bisa memahami makna perjalanan ini, dan aku tahu suatu waktu aku pasti kembali padamu.

Kisah ini memang terlalu sederhana untuk dibaca, namun kisah-kisah yang kita jalani amatlah mengagumkan untuk diceritakan.
Aku bahagia dan bangga mengenalmu, mencintaimu, dan bisa bersamamu. Aku menulis coretan sederhana ini di ketinggian 10363 meter, duduk menatap putihnya awan dan deru mesin pesawat yang sesekali lirih terdengar di sela lantunan lagu yang kudengarkan. Sederhana bila menyikapi hidup, seperti halnya perjalanan ini, terasa panjang meski pendek, terasa sebentar meski lama, terasa dekat meski jauh.

Hari ini aku pulang, seperti janjiku padamu, dan pada diriku sendiri. 

#kembali #hijrah #buku

Catatan Sang Pendosa – 3


Ada sebagian benci dan dendam yang hadir karena besarnya rasa sayang. Engkau membenci suatu hal namun engkau tak menyadari justru kebencian itu menguasaimu dan menjadikanmu sungguh berbeda. Engkau mendendam pada suatu hal lalu engkau tak sadar telah menjadi budak dari amarahmu.

Mungkin awalnya kita begitu menyayangi suatu hal, hingga ada orang yang menyakiti atau merusak apa yang kau sayangi itu. Engkau marah, engkau begitu membenci, lalu mulai muncul dalam hatimu untuk membalas. Nafsumu menjadikanmu berhasil membalas semua kebencian dan rasa sakit itu lalu kau mulai melihat bertambah lagi orang yang menurutmu layak kau benci dan kau beri pelajaran. Engkau berhasil, dan mulai nyaman membalas meski itu bukan lagi bagian dari rasa sakitmu. Engkau mulai terbiasa, engkau mulai menjadi budak nafsumu.

😷

Kenyamanan untuk membalas melahirkan jalan bagi dendam untuk muncul di dadamu, di hatimu. Kini engkau merasa harus membalaskan dendam meski kau sadari semestinya kau tak perlu melakukan apa-apa, itu bukan dendammu, itu hidup orang lain. Namun hatimu telah mati, ia hangus dibakar amarahmu sendiri. Engkau buta, engkau melakukan apa saja hingga kau temukan kebinasaan dan kesengsaraan. 

😷

Maka kembalilah, bersihkan hatimu, karena kau masih memiliki Tuhan dalam hidupmu, Dia yang maha pemaaf, maha pemberi ampunan, lagi maha penyayang. 

#kembali #hijrah #buku 

Catatan Sang Pendosa – 1


Kehidupan membuatku mengerti, apa yang aku anggap menyenangkan, memuaskan, memberi kenikmatan dan ketenangan, nyatanya tak pernah benar-benar membuatku merasakan semua itu. Aku mendapat kesenangan semu, dosa semakin menumpuk, derita makin menjulang, jauh dari kebaikan dan selalu merasa kosong, hingga kehilangan hal paling diimpikan.

Tak ada yang salah dengan kehidupan ini sampai aku menyadari ada rasa kehilangan dan penyesalan begitu besar dalam diriku. Aku yang tiba-tiba sadar bahwa pintu sudah tertutup sementara aku terkurung di dalamnya terkunci bersama derita. Kau tahu, seperti kau menanam pohon mangga lalu berharap kelak akan memanen buahnya. Engkau bersikap seolah sudah merawat begitu baik namun sesungguhnya yang kau tabur adalah racun mematikan. Pada akhirnya, saat matahari tenggelam kau akan menyadari bahwa esok pohon itu akan mati dan kau hanya bisa berdoa agar Tuhan menyelamatkan harapanmu itu.

Begitulah aku. Aku mencari makna namun yang kudapat hampa. Aku sadar semakin kehilangan orang yang disayangi meski hati sangat ingin tulus mencintai. Aku ingin mencintai penuh ketulusan, namun merasa tak layak dan penuh dosa hingga kadang ingin rasanya menghilang.

Satu-satunya jalan yang kini disediakan Tuhan untukku hanyalah jalan yang memiliki dua cabang. Aku masih mencari, jalan mana untuk kembali pada fitrah yang nyata. Haruskah susuri jalan penuh kenangan dan airmata, ataukah jalan penuh kesengsaraan dan canda tawa. Aku hanya tahu, sejatinya aku ingin kembali pada Tuhanku. Mencari ketenangan lewat iman dan hidayah. Semoga Engkau menerima dan membimbing jalanku ya Rabb.

Tulisan ini mungkin hanya kata-kata yang berserak tak karuan. Engkau yang membacanya, mungkin tertawa atau malah bertanya kemalangan seperti apa yang menimpa lelaki sepertiku. Tak ada duka lebih duka dari hilangnya cahaya mata dan hatimu, itulah kemalangan paling pedih yang hadir dalam hidup seorang lelaki.

#kembali #hijrah #buku #kehidupan

Kembali PadaNya


Ada satu masa di mana dosa-dosa itu menjadi begitu jelas ditampilkan di kedua matamu. Engkau yang merasa begitu hebat menganggap semua keburukan itu tak akan dinilai, engkau yang begitu yakin tidak akan ada yang mengetahui, lalu tiba-tiba engkau tersungkur jatuh tanpa mampu sandarkan apapun pada apapun lagi.

Ada satu masa di mana kesenangan yang kau pikir begitu indah, kebohongan yang kau pikir begitu rapat tersimpan, menegurmu dengan cara yang tak engkau pikirkan sebelumnya. Tak ada bahagia yang bahagia dari sesuatu yang nyatanya buruk.

Saat engkau merasa tak ada lagi harapan untuk menjadi baik, saat engkau merasa begitu kecil dan hina, lalu semua terlambat dan hanya sisakan ratapan serta penyesalan, bahagialah jika Tuhanmu masih meraih tanganmu, memeluk jasadmu lewat kasih sayang dan teguranNya. 

Kembalilah pada diri yang dulu engkau diciptakan, Kembalilah pada jalan yang sudah Tuhanmu gariskan. Kembalilah padaNya, lalu berusahalah sekuat jasad dan jiwamu untuk tak kembali mengulang keburukan yang pernah dilakukan. 

#kembali #hijrah

Aforisme: Catatan Sang Penyair – bagian 1.


image

Setiap malam datang, berulang kali kunang-kunang itu hadir. Hanya satu, sendiri, namun tetap memendarkan cahayanya yang kuning keemasan. Terbang dari balik semak-semak yang berada tak jauh dari jendela kamarku, lalu merendah hinggap di ujung rerumputan atau sesekali di ujung kayu jendela. Aku tak tahu kenapa ia sendiri, ke mana lainnya? Kenapa dia sendiri? Apa dia tersesat? Kenapa dia memilih menemuiku? Aku tak pernah tahu jawabannya.

Sampai akhirnya malam ini, usai hujan deras turun sepanjang hari, kunang-kunang itu datang lagi. Ia terbang rendah, menari sejenak sambil terus pendarkan cahayanya lalu hinggap di ujung kayu jendela kamarku. Aku hitung ini malam ketujuh, atau mungkin kedelapan aku tak tahu pastinya. Malam ini aku hanya tahu satu hal, kunang-kunang itu tak akan datang tanpa maksud tertentu.

Dua puluh tahun lalu, usiaku tujuh tahun. Hidup di sebuah kampung kecil di kaki bukit Gunung Slamet. Namaku Kastrimo, orang-orang memanggilku Trimo, atau lebih sering dengan sebutan ‘Cungkring’ karena tubuhku kurus. Kulitku coklat terbakar matahari, dan rambut tipis seperti rumbai bunga jagung muda. Setiap hari tak ada yang lebih menyenangkan selain mandi di sungai yang airnya berasal dari sebuah mata air di lereng bukit. Seperti anak lainnya, kami tak peduli apa yang akan terjadi esok hari, kami hanya tahu bermain. Di kampungku hanya ada satu sekolah, atau lebih tepatnya disebut pondok yang memuat sembilan anak seumuranku. Aku salah satu yang belajar di pondok itu. Ukurannya tak besar, terbuat dari kayu seperti rumah biasa hanya saja tak ada sekat atau dinding pembatas. Seperti bangunan pendapa rumah joglo yang hanya memiliki atap saja. Di sekeliling pondok itu terdapat rimbun pepohonan bambu, dan sebuah sungai kecil yang begitu jernih airnya. Di sungai itulah kami sering mandi, bercanda setelah seharian belajar ilmu agama dan juga ilmu lainnya termasuk silat. Tak ada yang melarang, tidak juga Kyai Ahmad yang menjadi guru satu-satunya di pondok, atau orang tua yang rata-rata sibuk bertani.

Kampung Nagageni, ada di kaki bukit Gunung Slamet. Dibatasi hutan kecil dan ladang serta sawah. Satu-satunya kampung terdekat jaraknya sekitar 3 kilometer. Tak ada listrik, jalanan masih tanah terjal yang berubah selicin belut usai hujan turun. Kau bisa mendengar suara burung saat terjaga dari tidurmu, atau riuhnya suara-suara dari dalam hutan saat petang mulai datang.

Dari semua itu, ada satu hal yang sebenarnya membuatku penasaran. Aku tak pernah tahu siapa bapakku. Aku tak pernah melihat wajahnya, tak pernah mendengar suaranya. Orang-orang bilang bapakku dulu seorang pendatang dari kota besar, lalu hilang tanpa kabar sebelum aku lahir di dunia ini. Ada yang bilang bapak mati dibunuh perampok di hutan lalu mayatnya dimakan binatang, ada yang bilang bapakku pergi karena menikah dengan anak lurah dari kampung lain, ada pula yang bilang aku tak punya bapak, aku anak yang lahir karena ibuku menikah dengan Raja Jin penguasa Gunung Slamet. Aku tak pernah percaya semua cerita itu.

——————- bersambung.

Novanka Raja.