Jiwa yang rindu keabadian


Kematian terkadang lebih indah bila disejajarkan kehidupan

Tak terbatas pada kepatuhan dan keterikatan jiwa

Kekosongan hanya sebatas raga, tak terbuka mata

Kematian menyeret kita pada jalannya yang bertapak

Yang meluruhkan rasa sakit, pedih, dan kehinaan dunia

Kehidupan yang bersandar pada nafas lebih berharga dari kata

Karena nafas lahir dari jiwa yang suci bukan dari rahim nafsu

Bukankah kematian awal dari kehidupan juga?

Kita berputar ikuti roda alam yang terkadang kita tersesat

Tak memandang baik pun buruk yang hadir bagi kita

Bukankah kehidupan mengunci kita pada ketidakpastian?

Hanya jiwa – jiwa yang buta diperbudak oleh itu

Tak jauh berbeda dari keledai yang memangku tuannya

Jika hidup itu terurut dar lahir kemudian mati

Mengapa takut membekap suara – suara hati?

Jiwa yang haus, menangis dan berteriak ingin bebas

Mungkin menyadari keabadian bukanlah sebuah keraguan

Puing yang runtuh dari keputus asaan hanya menjadi prasasti

Yang mencoba ingatkan mereka hidup tak terus berlanjut

Sesudah perenungan itu, masihkah kita munafik?

Setiap jiwa berhak memilih apa yang terlihat olehnya

Mengapa takut masih saja membekap suara-suara hati?

nb. untuk semua pejuang palestina.

Jiwa yang rindu keabadian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s