Tentang Mimpi -e.m.b.r.i.o [I]


ini tentang mimpi.
Tepi danau, sisi bukit, dan cemara yang memagari pekarangan. Rumah mungil beratap cerita, dinding kayu yang kau ukir dengan harapan, di situlah kita tinggal. Di tempat ini kelak anak-anak kita dan juga cucu-cucu kita kan berkumpul, bersenda gurau dan mengenang tiap waktu yang terjalani. Di pekarangan belakang itu akan ku buat kebun, yang kan kau tanami dengan pohon cinta seperti yang selalu kau bilang padaku tiap malam, sebelum kau tertidur. Darinya cinta kita kan terus tumbuh, darinya cinta kita kan berkembang dan tak layu. Tiap sore kan kita sirami dengan kejujuran, kasih sayang dan juga impian.
Di halaman samping itu kelak kan ku buat tempat bermain untuk anak-anak kita, sebuah kolam kecil, dan juga rumah pohon. Bukankah itu yang kita impikan?

“Sayang,aku suka..” katamu manja, memelukku dan tak ingin lepas.
“Ini tak kan berarti, tanpa kau..” bisikku sambil mengusap segala getir yang terlihat di antara kerutan kantung matanya yang mulai rapuh.
“Tidakkah kau lihat? Anak-anak kita berlari dengan riangnya, menendang angin dan melompat! Di tepi danau itu aku akan melukis, merangkum semua bahagia yang ada, dan kau..diam saja di teras rumah, menikmati teh hangat kesukaanmu..” ujarmu bersemangat, hingga matamu berbinar, menerawang jauh.
“Hey, aku tak kan berdiam saja di kursi tua itu..aku akan mengajak anak-anak susuri hutan, aku akan mengajari mereka mengenal alam, berenang di danau dan kau melukiskannya..”
“Hahaha..iya, kau memang ayah yang hebat..dan suami yang hebat pula! aku bahagia..”

terdiam.kosong.
“Peluk aku lebih erat..” pintamu, menatapku sayu, dan aku mengerti dalam tatap itu kau mulai meragu.
“Bersabarlah..aku tak kan pernah lelah berjuang untukmu, aku tak kan pernah berhenti mengejar mimpi itu. Esok semua kan mengerti, cinta kita tak serapuh dahan keraguan, cinta kita sekuat tiang kesabaran..” ujarku mencoba memberinya semangat, seperti hari yang lalu.
“Sampai kapan? Sedangkan kau tahu mereka menutup semua pintu untuk kita..”
“Tidak, karena kita akan membuat pintu sendiri..dan hanya kita yang punya kuncinya..” jawabku sambil mengecup pelan keningnya.

tersenyum.berharap.
“Terima kasih sayang..”

Mimpi itu masih saja tergantung di langit. Terkadang terlihat rapuh dan akan jatuh, hingga ku harus menjaganya sepanjang waktu. Tapi, ini bukan sekedar mimpi. Ini adalah doa. Tentangku, tentangmu, tentang kita. Saat ini.

Tentang Mimpi -e.m.b.r.i.o [I]

3 thoughts on “Tentang Mimpi -e.m.b.r.i.o [I]

  1. Sudah lama aku menanti karyamu dan kini telah muncul… Hore! Senang sekali rasanya. Selamat ya karena kau telah melahirkan karya untuk ke sekian kali. Jangan lupa ucapkan syukur pada tuhan. Sukses buat karya selanjutnya.

    Wah, terima kasih ya..
    Jemariku sempat kehilangan rohnya..
    Insyaallah aktif lagi dengan karya..
    Salam hangat,
    unekunekotak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s