Hitam -e.m.b.r.i.o


Dua hari setelah kau pergi.

Sore hari Kota Lama.
Jakarta semakin sesak! Atau karena hatiku sedang gelisah hingga semua seperti masuk mengerubuti nuraniku? Menjilat semangatku dan mengubur semua mimpiku! muak.
Dan kau! Kenapa semua yang terlihat hanya tentang kau! Kau!

trrtt,,,trrrttt..handphone

ku bergetar. Menggelitik saku celana yang memang sudah mulai terlalu ketat.
Ah, nama yang sangat ku rindukan. Tapi, biarkan sajalah. Toh aku tak lagi bisa mengertikannya.

trrtt,,,trrtttt,,handphoneku bergetar lagi. lagi. lagi. sepuluh kali.

“Hi..” sapaku lirih. muak.
“Hi..kau dimana?”
“Masih di sini..kau tau dimana aku dan tak usah berpura-pura tak tahu.” jawabku ketus. makin muak!
“Aku ingin kita bicara baik-baik..”
“Untuk apa? Untuk sekali lagi menikam hatiku? Untuk sekali lagi menyayat harapku?”
“Bukan..bukan seperti itu..tolong dengarkan aku dulu..”
“Maaf..aku ingin sendiri dulu..menikmati kematian ini.”

handphone mati. terdiam. sesak.
Aku berjalan, letih dan menggigil. Trotoar beralas kotoran ini makin benamkan aku pada lubang pasir hitam yang menyerap segala kesadaran. Tak ada jejak. Tak ada sesal. Sesekali aku biarkan angin menggerogoti kenangan, dan langit menelan wajahnya.

38 missed call. 13 new message. hanya tulisan itu yang tertera jelas di layar handphoneku. dan aku tahu itu siapa. muak!
Lorong selatan, museum Fatahilah. Aku terduduk. Tersudut. Merangkum semua getirku dan menuliskannya di lembar takdirku. Tentang aku yang selalu kalah.

“Hey! Bangun!”
“Oh, kau siapa?” tanyaku.
“Aku takdirmu! Bangun!”
“Bagaimana aku tahu dan yakin? Bisa saja kau menipuku?” balasku. Tubuh ini mengigil. bergetar!
“Apa yang ingin kau ketahui? Sedangkan aku tahu kau selalu seperti ini saat kalah dalam perang! Menghunus pisaumu dan meletakkannya tepat di leher tanpa pernah kau mengirisnya, kalau kau ingin mati, lakukan saja!” tiba-tiba dia membentakku. semakin galak!
“Kau menantangku? Baiklah..” jawabku. marah.
“BODOH!” teriaknya keras hingga telingaku bergema. hitam. pudar.
“Sekarang kau bilang aku bodoh? Sudahlah, aku pun tak perduli denganmu, kalau kau Takdir, seharusnya kau tahu kenapa aku begini, pergilah..aku ingin sendiri..!”
“Baiklah aku pergi, aku hanya ingin memberitahumu, aku punya kejutan..” dan dia pergi. terbang. menghilang.

aku masih saja terduduk. malam. kelam.
trrtt..ttrrrttt.. handphoneku bergetar lagi. 39 missed call. kemudian 40 missed call. 45 dan aku tertidur.

pagi. ramai. sesak.
Aku terbangun, terjaga dari tidurku dan mimpi yang menakutkan. Hey, kenapa di bawah sana ramai sekali? Beberapa orang berkumpul, panik, mengerubuti jasad yang terbujur kaku. mati. Aku seperti mengenal jasad itu, dan perempuan yang menangis di sudut lorong itu, aku pun mengenalnya!
Itu aku, yang terbaring dan dikerubuti seperti bangkai! Dan itu kamu! Ya, kau yang berdiri menangis di lorong itu..tapi..

“Kau telah mati!” tiba-tiba Takdir kembali datang.
“Kau mengagetkanku saja! Tidak, aku belum mati..dan lihatlah..aku masih di sini, berbincang denganmu!”
“Kau sudah mati!” kali ini ia berkata sambil matanya melotot seperti ingin keluar.
“Tidak..tidak..aku belum mati!”
“Itu jasadmu..ragamu yang rapuh dan pengecut! Dan perempuan itu, bukankah dia perempuan yang membuatmu seperti ini? Dia ada disini semalaman! Mencarimu di antara pekat dan gelapnya sudut kota!”
“Tunggu..apa maksudmu dia mencariku?” tanyaku.
“Dia mencarimu..dia berjuang untukmu..dia memilihmu!”
“Untukku? Memilihku? Apa maksudmu?” tanyaku sekali lagi.
“Tahukah kau apa yang terjadi dengan takdirnya? Dia berani berjuang dan melawan semua peperangan yang ada, tidak sepertimu! Lari dan sembunyi kemudian mati.”
“Tapi..” ingin rasanya menangis. tapi tak bisa!
“Ya, kau menyerah tanpa pernah berperang..”

hening. kosong.
Aku terbang, memeluk perempuanku. tapi tak bisa. sedangkan aku tahu, detak jantungnya begitu keras tiap dia sebut namaku. air matanya begitu deras tiap dia belai kenanganku.

“Andai kau tahu..dan mau bersabar.. Maafkan aku sayang..” bisiknya lirih.
“Tidak..aku yang harus meminta maaf, aku yang salah! Tidak, kau tak boleh meminta maaf..” kataku.

dia tak mendengar. dia menangis.
“Sayang! Dengar..aku disini! Hey, lihatlah..aku di depanmu! ” teriakku sambil menari. dia masih terdiam.
“Selamat jalan sayang..semoga kini kau temukan bahagiamu di surga..”

aku terdiam
Langit makin terang. Orang mulai pergi. sepi. dan perempuanku, berjalan rapuh, kosong.

Hitam -e.m.b.r.i.o

3 thoughts on “Hitam -e.m.b.r.i.o

  1. tuti says:

    best a plause 4 u..
    duch penasaran bgt ma klanjutannya.. lanjutin dunk,,,
    gimana nasib tu cwe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s