Belum terlambat untuk kita.. -e.m.b.r.i.o


Tepi Barat Jakarta. Setelah hujan reda.

Malam makin larut. Sepeda motor ku pacu lebih cepat karena takut akan terlalu malam sampai di rumahmu. Sedangkan kau, begitu erat memelukku. Bersandar dalam tatapmu yang kosong. Dingin.

“Sayang, pelankan laju motormu..” katamu.
“Baiklah..” jawabku sambil menggenggam erat jemari tanganmu.

Udara makin dingin. Kau memelukku makin erat, entah karena dingin, atau memang kau tak ingin melepaskan pelukanmu dariku. Jalanan mulai lengang.

“Maaf ya..” bisikmu lirih.
“Sudahlah..bukankah tadi sudah ku katakan kepadamu? Kita akan tersenyum.. Aku akan bahagia dengan caraku, seperti kau bahagia dengan caramu..” jawabku datar. Hati ini masih terasa begitu sesak.
“Aku tahu..” ucapmu sambil melingkarkan tangan ke tubuhku, memeluk seakan merantaiku dengan erat.
“Makasih..” kataku sambil berusaha menghindari lobang di jalan.
“Akan ada perempuan yang baik untukmu, perempuan yang memberimu bahagia, yang akan selalu ada dan berjuang untuk apapun yang kalian yakini.. tidak sepertiku..”
“Sudahlah..kalau pun ada, biarkan kelak ia datang sendiri.. Saat ini aku tak ingin membahasnya, biarkan aku lewati malam ini denganmu..terakhir kalinya.” kataku sedikit kesal.

Hujan datang lagi. Kali ini begitu deras.
“Kita harus berteduh..” kataku.
“Tidak..jalan terus saja..Aku ingin menikmati hujan ini bersamamu”
“Kau baru saja sembuh..aku tak ingin kau sakit lagi..tolong..”
“Ijinkan aku menikmatinya bersamamu..tolong..”
“Baiklah..”

Sepeda motor ku laju tak terlalu cepat, takut terjatuh karena jalanan yang licin. Kau memelukku begitu erat hingga degupan jantungmu dapat ku rasakan dengan jelas, jemarimu yang lembut menggenggam erat jemariku yang rapuh.

“Aku mencintaimu..” tiba-tiba kau bisikkan kata itu. Kata yang hampir tak pernah ku dengar keluar dari bibirmu, bahkan untuk siapapun lelaki yang pernah hadir dalam hidupmu. Kata yang menurutmu hanya bisa kau katakan pada mereka yang kau yakini. Kini, kau mengatakannya padaku, saat semua tak lagi satu arah.
“Aku pun mencintaimu..sangat mencintaimu..” bisikku lirih. Dari kaca spion motor ku lihat kau menangis, air matamu menyatu dengan hujan. Dan aku, makin terdiam dalam dinginnya hatiku sendiri.
“Maukah kau berjanji padaku?”
“Apa yang ingin kau dengar?” tanyaku.
“Berjanjilah kau tak kan pergi dari peperangan hidupmu.. Berjanjilah kau kan wujudkan mimpimu.. Berjanjilah padaku..”
“Aku sudah tak punya perang lagi.. Aku pun tak punya mimpi..apa yang harus aku janjikan kepadamu?”
“Tidak, aku yakin kau kan wujudkan mimpimu, mimpi kita tentang keluarga dan rumah..seperti yang selalu kau katakan padaku..Aku hanya ingin mendengarmu berjanji akan mewujudkan mimpi kita itu, meski mungkin tak bersamaku..”
“Mimpi itu ku bangun untukmu.. Aku tak bisa mewujudkannya untuk orang lain..”

Air mata itu makin deras. Pelukanmu masih erat mendekapku. Tak menyisakan celah untukku bernafas.

“Bawa aku pergi..”
“Maksudmu?” tanyaku kaget.
“Kau mencintaiku?”
“Ya, lalu?”
“Kalau begitu bawa aku pergi..”
“Tidak, aku tak akan lakukan itu..”
“Kalau begitu kau tak mencintaiku..” katamu sambil melepaskan pelukan.
“Tidak, aku mencintaimu..sungguh..tapi

kita tak bisa seperti itu..”
“Aku ingin seperti itu..aku ingin hidup bersamamu, seperti apa pun kita!”
“Aku tahu..tapi cobalah berpikir dengan logika..”
“Kau bandingkan cinta kita dengan logika? logika seperti apa? apa kini kau menyerah?”
“Tidak, aku tidak pernah menyerah!”
“Kalau begitu bawa aku pergi!”

Aku hanya bisa terdiam. Kecamuk di dadaku melebihi genderang perang yang pernah ku tabuh dulu.
Perlahan ku tepikan motorku, dan berhenti di sebuah halte yang sepi.
“Kenapa berhenti?”
“Aku ingin bicara..”

Sepeda motor ku parkir di tepi jalan, dan aku menuntunnya ke halte. Duduk. terdiam.
“Kenapa kau diam?”
“Apa kau mencintaiku?” tanyaku.
“Iya..kau sudah tau itu, kenapa kau bertanya?”
“Apa kau mencintai keluargamu?”
“Ya..tentu”
“Dengan pergi bersamaku,apakah kau sudah memikirkan akan seperti apa keluargamu?”
“Kau pernah bilang akan berjuang untuk sesuatu yang kau yakini dalam hidup.. kau berjuang untukku meski kau sadar itu membuatmu terluka..lebih dari yang pernah kau rasa sebelumnya.. tapi kau tetap berjuang, kau melawan semua pedih itu untukku..”
“Lalu?” kataku memotong.
“Kali ini, aku ingin berjuang untukmu..”

Kata-kata itu menyentak jiwaku hingga seakan-akan ingin loncat keluar dari jasadku.
“kau sudah berjuang untukku dengan ada di sini..itu lebih dari cukup untukku”
“ada apa denganmu? Setelah semua yang kita lalui kau ingin berhenti??”
“Tidak, ini tidak hanya tentang kita..cobalah kau pahami..”
“kau pengecut!” teriaknya sambil menangis.

Aku makin merasa bersalah. Perlahan ku peluk erat tubuhnya yang mulai mengigil. Perasaan nyaman mulai hinggap dan menjalar ke seluruh tubuhku.
“Kita tak harus pergi dan lari dari kenyataan ini bila kau mau jujur pada dirimu dan pada semua orang..bahwa kau mencintaiku..” kataku lirih.
“kini kau menyalahkanku?”
“Tidak..bukan seperti itu, maksudku, semua ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik. kalau kau mencintaiku,katakan kau mencintaiku seperti yang tadi kau katakan kepadaku, katakan itu ke semua orang yang ada dalam perang kita..”

Hening. Suara rintik hujan mulai perlahan pergi.
“kau benar..” katamu lirih.
“aku hanya ingin kau mengerti..aku mencintaimu dan ingin semua ini berakhir dengan baik..”
“maafkan aku..aku hanya tak ingin berpisah darimu..aku tak ingin semua ini terlambat ketika aku sadar aku mencintaimu..aku membutuhkanmu dalan hidupku..”
“kalau begitu katakan sekarang..semua belum terlambat..”
“Apapun yang terjadi..kau kan bersamaku?”
“Aku tak kan pernah berhenti berjuang untukmu..” kataku lirih.
“Kuatkan aku saat ku rapuh..” katamu.

Aku memeluknya makin erat. kali ini jiwa kami bersatu. Meninggalkan jasad kami yang terduduk mengigil di sepinya malam entah sampai kapan.

Belum terlambat untuk kita.. -e.m.b.r.i.o

5 thoughts on “Belum terlambat untuk kita.. -e.m.b.r.i.o

  1. Hanya Rinz says:

    aku selalu ingin terus berjuang… namun sudah tak ada lagi yang harus diperjuangkan… :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s