Dan harus berlalu, tanpamu.


Tak ada musim gugur dimana sakura berjatuhan. Tak ada musim semi dimana pohon oak mulai berwarna gelap. Jakarta hanya mengenal musim panas, penuh asap knalpot dan lengkingan klakson dari mobil yang merayap panjang di tiap sudut jalan. Sudah setahun ini semuanya berlalu, keajaiban yang selalu kuharapkan datang nyatanya hanya impian, seperti halnya musim gugur dan musim semi. Tak ada yang berubah selain kerut yang mulai tampak di bawah mataku.

Hari ini, tepat setahun kau pergi dari hidupku. Mungkin benar apa katamu dulu, tak seharusnya aku menunggumu kembali karena jalan yang kita tempuh benar-benar berbeda. Tapi, inilah cinta, seperti kataku dulu. Aku tak akan berhenti berharap meski mungkin itu adalah sebuah kebodohan. Bukankah kau juga bilang bahwa Tuhan selalu memberi keajaiban saat kita benar-benar sudah tak berkuasa atas takdir kita sendiri?

Sore ini, aku sengaja susuri jalanan dimana dulu kita pernah bercanda. Kau selalu suka Kemang, kau selalu suka lumba-lumba, dan kau selalu suka mataku yang sedikit sendu seperti kurang tidur. Langkahku terus susuri tiap kenangan itu. Kemang, ya, kau selalu suka daerah ini karena disinilah awal kita berjumpa. Kau yang duduk tepat di kursi pojok ruangan tempat makan fastfood, memakai kaos putih bergambar vespa dan sibuk dengan netbook kecil berwarna biru. Aku selalu bersyukur pada putusnya jaringan internet yang membuatmu meminta tolong kepadaku. Itulah awal pertemuan yang tak kan pernah mampu aku lupakan.

Sebulan setelah itu, mungkin kau pun masih mengingatnya, pertunjukan lumba-lumba di Ancol. Itu pertama kalinya aku melihat lumba-lumba secara langsung. Kau tak pernah lelah menjelaskan padaku kenapa kau sangat suka lumba-lumba. Awalnya kupikir kau suka lumba-lumba karena sifatnya yang ramah dan suka menolong, tapi tidak, kau menyukai lumba-lumba karena ia bukan ikan selain suaranya yang menurutmu adalah suara malaikat. Aneh memang, tapi itulah keanehan yang meyakinkanku bahwa kau sangat berbeda. Dan disanalah pertama kali kuberani ungkapkan bahwa aku mencintaimu. Setelah itu, cincin berukir lumba-lumba selalu lekat dijemari kita. Cincin itu bahkan masih kupakai, saat ini.

Masih ingatkah kau, tentang mataku yang tak mampu berpijar sempurna kala menatapmu. Kau bilang mataku sendu, karena itu pula kau selalu nyaman menatapku. Kau bilang mata ini selalu meneduhkan jiwamu, ah, aku tahu kau terlalu berlebihan tentang itu tapi kini aku sadar, kau tak pernah berlebihan, mata ini memang hanya mampu tercipta sendu saat menatapmu.

Ah, matahari sudah bersiap melangkah pulang. Senja ini tetap tak ada sakura yang gugur, tak ada pohon oak yang berwarna gelap. Sudah setahun dan tak ada kabar darimu. Mungkin sekarang saatnya aku memahami, bahwa kau memang benar-benar telah pergi, tak ada lagi janji tentang pertemuan, tak ada lagi janji tentang kesetiaan. Kini, waktunya bagiku untuk menjemput takdir yang lain. Semoga memang benar-benar ada takdir yang lain, untukku.

di bangku kayu ini dulu kau berjanji akan kembali untukku, maka kini ijinkan aku yang berjanji akan mencoba melepasmu dari keajaibanku.

Dan aku melangkah pelan runuti matahari yang perlahan sembunyi di belahan barat Jakarta sambil memutar cincin yang ada di jari tengah tangan kananku, tersenyum mengucap namamu.

-untuk perempuanku.

Dan harus berlalu, tanpamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s