Hati yang terlewatkan.


Hujan deras mengguyur selatan Jakarta. Aku hanya diam menikmati teh hijau kesukaanku sementara kau sibuk dengan handphonemu. Sepotong cheesecake masih utuh belum tersentuh tersaji di tengah meja kecil di sudut cafe ini, menunggu kau atau aku yang akan melahapnya. Entah apa yang sedang terjadi, aku hanya merasa hampa, kosong dan tak bermakna.

“Kau sudah yakin dengan keputusanmu?” tanyamu memecah keheningan.
“Aku sudah yakin dan ini memang yang terbaik untuk kita bukan?”
“Aku tahu, aku juga yakin ini memang yang terbaik.”

Dan suasana kembali hening, hanya rintik hujan dan tawa petir yang sesekali menyadarkan lamunan kami. Mungkin keputusan yang kubuat ini memang yang terbaik meski aku sendiri tak tahu apa aku mampu menikmati dunia tanpamu. Entahlah, kita yang terlalu sibuk dengan pekerjaan dan urusan masing-masing sepertinya sudah tak ada lagi ruang untuk saling mengerti selain cemburu dan emosi.

“Semoga kau bisa dapatkan kedamaian seperti dulu, atau mungkin perempuan yang lebih mengerti.”
“Sudahlah, kau pun tahu itu. Keputusan ini bukan karena aku tak menyayangimu dan aku yakin kau lebih memahami, aku hanya ingin kita saling mengerti arti kita masing-masing.”
“Dengan cara ini?”
“Heey, sedari tadi sudah kita bicarakan semuanya. Kau tahu inilah satu-satunya jalan yang memang harus kita pilih.”

Airmata itu tampak mulai menggantung dimatamu yang redup. Terlihat jelas kesedihan yang hinggap di sana. Ah, seandainya kau pun tahu debar yang tak juga berhenti, perih yang selalu saja menjalar di tiap poriku. Hujan mulai mereda, bulir-bulir air terlihat bening menggantung di ujung daun Palm yang ada di taman cafe ini. Aku tak tahu harus berkata apalagi, di satu sisi aku sangat mencintaimu tapi di sisi lain aku juga tak pernah ingin menyakitimu dengan hubungan yang makin tak tentu ini.

Tiba-tiba kau berdiri, merapikan tas dan handphone yang ada di meja.

“Suatu hari nanti mungkin kau akan mengerti, kita pernah memiliki sesuatu hal yang sangat berarti dalam hidup. Dan jangan menyalahkan apapun tentang kenangan, kita telah memilih.” ucapmu dengan mata berbinar lalu melangkah pergi meninggalkanku dengan tatapan kosong.

Entah kenapa kaki ini serasa menancap di lantai cafe, sedikit pun tak mampu bergerak untuk mengejarmu hingga bayang menghilang dibalik pintu. Jantungku berdetak kencang, mataku seakan berkabut. Dan aku kemudian hanya mampu menunduk nikmati sendiriku.

Semilir angin basah membasuh wajahku, kesejukkan itu perlahan mengusir segala gelisah dan pedih yang menggelayut manja di hatiku. “Sudahlah, aku telah memilih, aku harus tunjukkan padanya bahwa ini memang yang terbaik” batinku sambil beranjak dari kursi dan berlalu meninggalkan cafe itu dengan keheningan yang mungkin tak terungkap rasa.

Secarik kertas putih bertuliskan “Rahim ini kelak akan bercerita tentangmu, Ayah.” tampak terselip di bawah tempat cheesecakes yang belum disantap itu. Kertas yang belum sempat terbaca sebagaimana kue yang ada di atasnya.

-cinta selalu meminta bukti.

Hati yang terlewatkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s