Atap malam Jakarta


Malam ini hujan baru saja mengguyur Jakarta. Seperti biasa, aku akan sangat meresapi nuansa setelah hujan dengan menikmatinya di tempat yang tinggi, itu mengingatkanku pada masa kecil dulu di lereng gunung Slamet. Ada satu gedung yang sangat aku suka, gedung dimana aku bisa sepuas hati menikmati malam Jakarta tanpa harus ada kebisingan. Aku akan menghabiskan waktu dengan berbaring dan memandang bintang dari atap gedung itu, menikmati segelas kopi hitam yang kubeli dari pedagang langganan di pinggir jalan dan sebungkus rokok kretek yang memang tak pernah ketinggalan di saku jaketku. Aku sangat menikmati malam-malam seperti ini.

Malam ini suasananya berbeda, ada rasa dingin yang menjalar disekujur tubuhku. Entah kenapa aku ingin segera sampai di atap gedung itu, ada dorongan yang begitu kuat untuk secepatnya sampai di sana. Motor vespa warna silver peninggalan almarhum ayahku terpaksa kupacu dengan cepat menerobos genangan air disepanjang jalan. Di pelataran gedung itu tampak seorang lelaki pedagang kopi langgananku, ia sedang sibuk merapikan dagangan yang ada di gerobak kecilnya.

“Kang, buatkan satu. Biasa!” teriakku sambil memarkirkan vespa bututku disamping halaman gedung tua itu.

Tak berapa lama, lelaki penjual kopi itu mendatangiku sambil tersenyum.

“Tumben, biasanya bawa kamera?” tanya lelaki tua itu.
“Iya nih Kang, buru-buru makanya kamera itu tertinggal dikosan. Pak Karjo ada?” tanyaku. Pak Karjo adalah penjaga gedung tua itu, ia yang memiliki kunci pintu gedung, dia sudah sangat mengenalku bahkan menganggapku sebagai anaknya sendiri. Lelaki berumur 45 tahun yang masih bekerja sebagai penjaga gedung tua dengan upah tak seberapa. Jauh dari keluarga dan jauh dari apapun yang ada dihatinya, selain Tuhan.
“Tadi sih pesan kopi sambil ngobrol sama laki-laki di ujung sana. Cuma sekarang gak tahu dia dimana.” jawab penjual kopi itu sambil bergegas menuju gerobaknya kembali.

Setelah menyalakan rokok kretek, aku bergegas menuju pintu gedung tua itu. Satu dorongan pelan dan pintu itu pun terbuka, sepertinya Pak Karjo sedang memeriksa bagian dalam gedung hingga pintu tak terkunci. Benar saja, baru beberapa melangkah terdengar bunyi derap kaki dari arah dalam gedung.

“Bram, masih suka berbincang dengan bintang?” tanya Pak Karjo.
“Hahaha, masih Pak. Semoga bintang-bintang itu tak bosan..” jawabku sambil menuju sebuah tangga melingkar yang ada di ruang depan gedung.
“Oh iya Bram, tadi ada seorang lelaki yang juga katanya sangat menikmati malam dari tempat ketinggian. Ia membawa kamera seperti yang biasa kau bawa, mungkin kau bisa menemaninya, ia tampak sedih. Hiburlah..” kata Pak Karjo.
“Ohya? Tumben ada orang seperti itu? Malam-malam begini naik ke atap gedung hanya untuk menikmati malam.”
“Kau sendiri seperti itu..hehehe..” jawaban Pak Karjo sontak menyadarkanku, aku pun tersenyum.

Hamparan lampu yang menerangi Jakarta terlihat seperti ribuan kunang-kunang dari atap gedung ini. Angin malam berhembus dengan lembut menelisik tiap pori wajahku. Aneh, tak ada siapapun di atap gedung ini. Kemana laki-laki yang kata Pak Karjo naik ke atap? Tak mau ambil pusing, aku segera duduk di dekat cerobong asap yang sudah tak berfungsi itu. Ahh, langit begitu sempurna, bulan bersinar terang, udara basah masih setia membekap wajahku. Tak berapa lama, keheningan itu pecah oleh langkah kaki.

Seorang lelaki berbadan kurus tampak berjalan menuju tepi atap, mungkin ia tak melihatku yang sedang duduk disamping cerobong asap. Laki-laki itu menggenggam sebuah bingkai foto, sepertinya foto perempuan, terlalu samar untuk melihat dengan jelas sosok foto yang ada di bingkai itu hanya dengan cahaya bulan. Aneh, tingkah lelaki itu malah membuatku merasa khawatir, jangan-jangan ia ingin bunuh diri?

“Sudah kulakukan semua untukmu, kalau memang itu maumu, maka tak ada lagi artiku hidup di dunia ini.” perlahan terdengar samar suara lelaki itu. Gila, ia benar-benar ingin bunuh diri rupanya. Lelaki itu kemudian berjalan pelan, berdiri di tepi gedung.

“Aku punya orang-orang istimewa dalam hidup, mungkin itu kenapa aku tak memilih bunuh diri. Ada hal baik dalam hidup yang terlalu indah dilewatkan, kau mungkin punya keluarga, istri, suami, anak, teman, lawan dan tentu saja Tuhan. Satu hal lagi yang membuatku masih hidup adalah, aku punya kehidupan dan aku memilih untuk hidup.” ucapku kepada lelaki yang tengah bersiap terjun dari atap gedung itu sambil menghembuskan asap rokok dan memandang langit malam.

Laki-laki itu tampak kaget kemudian menatapku dengan tajam. Raut mukanya tampak pucat, entah karena mengira aku hantu atau karena sebetulnya ia pucat melihat ketinggian. Entahlah..laki-laki itu kemudian melangkah mendekatiku.

“Apa yang kau tahu? Tentang cinta?” tanya lelaki itu.
“Duduklah dulu, mari nikmati malam ini.” jawabku pelan. Laki-laki itu kemudian berdiri tepat di depanku, kini bisa kulihat jelas foto seorang perempuan cantik di bingkai yang digenggamnya. “Kau bertanya apa aku memahami cinta?” kini aku yang balik bertanya.
“Ya, apa yang kau pahami dari cinta?”
“Aku kehilangan anakku saat ia masih bayi, aku kemudian kehilangan istriku yang lebih memilih laki-laki lain, apa kau masih ingin memahami cinta dariku?” jawabku sambil hembuskan sisa asap dari rokok kretekku.

Laki-laki itu terdiam, kemudian duduk disampingku.

“Kau merokok?” tanyaku sambil memberikan rokok kepada lelaki itu. Perlahan, jemari tangannya meraih sebatang rokok dengan sedikit gemetar.

Malam kembali hening, tak ada suara. Kepulan asap rokok mulai tampak seperti kabut, dan laki-laki itu akhirnya tersenyum.

-Hidup selalu menarik untuk terus dinikmati.

Atap malam Jakarta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s