Maaf, aku tak mampu memilihmu.


Sore itu hujan deras mengguyur sebagian besar wilayah Jakarta. Alunan lagu Utha Likumahuwa yang berjudul “Masihkah Ada” terdengar pelan di antara gemuruh hujan. Sial, lagu ini benar-benar menyindirku secara gamblang.

Kau ada yang memiliki, Aku ada yang memiliki

Walau kita masih saling menyayangi,

Kau di sana, Aku disini,

Satu rasa dalam hati

Namun hanya kau yang aku sayangi..


Ya, seperti itulah yang sedang kita jalani. Aku dan kekasihku, kau dan kekasihmu. Mungkin kita sudah gila atau memang cinta kita yang luar biasa gila.

“Aku tak tahu apa yang akan terjadi dengan kita, aku hanya tahu aku benar-benar mencintaimu.” katamu siang tadi saat bertemu di sebuah cafe di bilangan Margonda, Depok.

“Seperti inilah, entah kenapa aku tak pernah mampu menjadikanmu prioritas. Aku tahu aku yang salah, aku sudah memiliki kekasih yang bahkan sudah aku perkenalkan kepada orang tuaku untuk menjadi istriku kelak.”

“Sudahlah, kita berdua yang memilih jalan ini. Aku pun seperti itu, aku sudah memiliki lelaki, nyatanya aku pun tak bisa menahan gejolak cintaku kepadamu.”

Siang itu seharusnya aku memutuskan sebuah hal besar, aku yang tak pernah mampu melepaskan rasa cintaku kepada perempuan lain. Bahkan di saat rencana pertunangan dan pernikahan dengan kekasihku sudah terencana dengan baik. Aku masih mencintainya, perempuan yang pernah hadir, dan kini hadir kembali. Tapi bukan keputusan terbaik yang aku ambil meski mungkin itulah keputusan terbaik yang dapat kami ambil. Pertemuan yang akhirnya berakhir dengan pertengkaran hebat.

“Apa kau menginginkanku?”

“Tentu saja aku menginginkanmu!” jawabku.

“Kalau begitu batalkan pertunanganmu kemudian putuskan dia!”

“Tak semudah itu.”

“Kau harus mampu memilih, kita tak bisa seperti ini terus selamanya, kita tak mungkin sembunyi seperti ini!”

“Hey! Jangan membentakku dan jangan bersikap seperti anak kecil seperti itu!”

“Siapa yang bersikap seperti anak kecil? Kau yang pengecut!”

“Tolong, kau tahu situasiku, mudah saja aku batalkan pertunanganku, tapi bukan itu caranya, kau tahu kondisi Ibuku.”

“Oh, jadi kini semua kau salahkan kepada Ibumu? Baguslah..” jawabnya sambil berdiri dan melangkah meninggalkanku sendiri.

Aku mengejarnya dan berhasil menarik lengannya. Setelah memohon untuk memberi penjelasan, akhirnya dia mengijinkanku membawanya kembali ke kursi tempat kami duduk semula.

“Sejak awal bahkan sejak dulu kita masih bersama, kau tahu kondisi Ibuku. Beliau sedang sakit, apalagi jantungnya sudah sangat lemah. Ini hal yang sangat sulit untukku. Di satu sisi aku mencintaimu, di sisi lainnya Ibu adalah orang yang sangat aku sayangi. Seharusnya kau mau sedikit saja mengerti dan kita mencari cara yang lebih baik.”

“Kalau begitu, mungkin kau yang punya rencana lebih  baik. Aku tak punya, jujur aku tak punya.”

Sejenak kami terdiam. Kini kami sadari, orang-orang di cafe itu sedari tadi telah memperhatikan pertengkaran kami.

“Okay, pertunangan ini tetap aku lakukan. Ketika kondisi Ibuku sudah stabil mungkin aku bisa punya alasan untuk menggagalkan pernikahan. Bukankah pertunangan tak harus dilanjutkan ke pernikahan?”

“Sejak kapan kau sepicik itu? Aku memang berharap untuk bersamamu, tapi sebagai wanita, aku tentu saja sangat keberatan dengan caramu mempermainkan pertunangan dan pernikahan semudah itu!”

“Ini satu-satunya jalan yang terbaik.”

“Apa kau mampu menjamin akan menggagalkan pernikahan setelah pertunangan itu terjadi? Apa yang bisa kau jamin tentang itu? Apa kau yakin kondisi Ibumu akan stabil? Apalagi jika ternyata pertunangan kalian berhenti di tengah jalan.”

“Entahlah..” kataku sambil mengatupkan telapak tanganku menutup wajah.

“Baiklah, kalau itu yang terbaik. Mulai sekarang aku akan pergi, jika kau telah memutuskan pertunanganmu, kau boleh mencariku, dan bila saat itu aku pun ternyata telah memilih untuk serius dan juga menikah, maka kau mengerti apa yang telah terjadi.”

“Apa maksudmu?”

“Seperti yang kau lakukan, apa kau pikir itu baik untukku? Atau untuknya? Tidak bukan? Lalu buat apa aku ada disini?”

“Sudahlah, jangan berkata seperti itu.”

“Kau tahu kemana mencariku. Selesaikan urusanmu terlebih dahulu, terima kasih ya.” ucapnya sambil kembali bergegas pergi. Kali ini aku tak mampu gerakkan kakiku untuk mengejarnya. Terasa membatu dan menyatu dengan lantai.

Malam makin larut. Pertunanganku dengan Lara tinggal menunggu hari. Entah kenapa sampai sekarang aku masih saja merasa bukan dia yang seharusnya jadi istriku, melainkan Andini, perempuan yang tak pernah mampu aku tepiskan cintanya.

Tiba-tiba pintu kamarku diketuk. Suara Ibuku memanggil.

“Masuk saja Bu, pintunya tidak Bram kunci.” Jawabku.

Ibuku melangkah masuk ke dalam kamar. Wajahnya masih terlihat cantik meski sakit jantungnya telah memakan sisi ceria di wajahnya.

“Bram, tadi siang Ibunya Lara menelepon Ibu, membicarakan tanggal pertunangan. Mungkin minggu depan mereka kesini.”

“Oh, yasudah. Masalah tanggal Bram serahkan saja ke Ibu.”

“Bram, Lara gadis yang baik. Ibu suka sama dia, Ibu yakin ia akan menjadi istri dan Ibu yang baik untukmu dan anak-anak kalian kelak.”

“Iya Bu, doakan saja.” Jawabku meski dengan lidah kelu.

Setelah menyampaikan beberapa nasehat, Ibu pun kembali ke kamarnya. Aku mulai merenung, mencba memahami dari tiap sudut tentang perasaan galau ini. Mungkin inilah yang memang Tuhan takdirkan untukku.

Aku memang bukan lelaki yang hebat, biarkan Tuhan yang akan merangkai kisah kita. Maaf.

Sebuah pesan pendek kukirimkan kepada Andini. Pesan pengecut dari seorang lelaki pengecut sepertiku.

Tuhan, semoga benar Kau yang akan merangkai takdir kami.

Maaf, aku tak mampu memilihmu.

2 thoughts on “Maaf, aku tak mampu memilihmu.

  1. Aku memang bukan lelaki yang hebat, biarkan Tuhan yang akan merangkai kisah kita. Maaf.

    dia pernah mengirimkan sms seperti itu padakuuuuu….

    tapi.. bukan pengecut… hanya itu satu fase yang harus dia jalani…

    segala kisah telah ada tertulis dengan indah… satu saat, kita akan tahu mengapa semua itu harus terjadi…

  2. Zaki says:

    Ini kisah nyata atau bukan? Wah, aku sudah lama tidak membaca tulisanmu. Kisah nyata atau bukan, tetap saja menyentuh. Kau tahu, kawan… Aku sedang bingung sekarang. Aku mencintai seseorang… Cinta yang begitu dalam. Aku telah mengungkap rasaku padanya. Tapi aku tak tahu bagaimana rasanya padaku. Dulu, jauh sebelum dia tahu rasaku, hubungan kami sangat baik, sangat dekat. Tapi sekarang…semua sudah hancur bagiku. Kami tak lagi saling bicara, hanya kadang2saja saling memandang, atau bercakap2sangat kaku. Yang mau kutanyakan padamu, kawan adalah… Menurutmu apa dia mencintaiku? Lalu, haruskah rasaku ini kubuang? Aku tak sanggup, kawan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s