Kereta kehidupan.


Kadang aku berpikir, hidup itu seperti stasiun kereta saja. Nah, tentu kau bertanya, kenapa harus kereta? Kenapa gak pake terminal aja? Teman, itu kan pikiranku, kalau pikiranmu menganggap hidup itu seperti terminal, silahkan saja. Tapi baiklah, akan ku coba tuliskan kenapa aku berpikir seperti itu.

Hidup adalah rangkaian waktu yang di isi kejadian. Kalau kau tak mengalami kejadian apapun ya berarti kau tak hidup. Mm,berarti batu hidup dunk? kan dia juga bisa meluruh? Ahh,yang aku bahas disini tentu saja manusia! Dan kita adalah manusia. Kembali lagi ke laptop eh tulisan, kenapa hidup itu seperti stasiun kereta. Aku bayangkan diriku sebagai seorang penumpang, dan kereta-kereta itu adalah segala kejadian. Ada kereta impian, kereta bahagia, kereta duka dan tentu saja kereta makan..hehe.. Maksudku, kereta itu ya rangkaian kehidupan sendiri.

Kita sebagai penumpang tentu mempunyai tujuan. Akan kemana kita melangkah atau pergi. Kereta mana yang akan kita naiki. Tentu saja seharusnya kita tahu arahnya jadi gak kesasar. Tapi sebagai manusia kita kadang lupa atau mungkin melupakan. Salah naik jurusan. Atau malah mungkin terlambat datang sehingga kereta-kereta itu telah berangkat ke tujuannya. Tak mengapa, karena kereta-kereta itu akan selalu kembali ke stasiun. Meski mungkin bukan kereta yang sama. Mungkin dengan kereta yang berbeda kita akan sampai pada tujuan yang sama yang kita harapkan.

Tiap kereta yang datang mungkin hanya kepala eh lokomotifnya saja. Ada juga dengan beberapa rangkaian gerbong. Tapi itulah poinnya. Hal yang kita tuju kadang bisa kita raih dengan hanya lokomotif, tapi kadang juga harus kita raih dengan kereta yang berisi rangkaian gerbong. Gerbong-gerbong yang mungkin di dalamnya ada rasa suka, duka, semangat atau gerbong kematian. Sekali lagi, bukan jalan atau rel-nya yang kita pikirkan. Karena rel itu seperti jalan takdir menurutku. Sudah dibuat dengan ketentuan dan ketetapanNya. Bukan pula dengan pemandangan selama kita menuju tujuan, karena itu sebagai bonus saja.

Satu hal yang tak boleh lupa, tiket! Ya, karena ini penting. Dalam hidup, orang harus punya tekad, punya bekal untuk melakukan perjalanan. Seperti tiket saja menurutku. Bukan barang bawaan yang kita bawa karena itu hanyalah pelengkap. Impian adalah tiket dan kita harus punya tiket hidup itu. Bicara tentang tiket, kadang kita malas untuk mengantri atau dengan alasan apapun. Beli di calo atau malah memilih untuk sama sekali tak punya tiket asal naik kereta. Itu sama saja dengan kehidupan yang kita jalani. Kalau mau aman dan sampai tujuan dengan lancar ya beli tiket, kalau mau ambil jalan pintas dan gak mau sabar ya beli di calo, kalau mau jalani hidup dengan jalan yang amat sangat pintas dan penuh resiko ya gak usah beli tiket. Toh itu hanya pilihan. Bukan berarti tulisan ini kemudian menganjurkan kita untuk naik kereta tanpa tiket atau mengharuskan kita beli tiket. Ini sama sekali tak ada kaitannya dengan perusahaan tiket atau perusahaan penyedia transportasi kereta. Ini tentang hidup.

Balik lagi kita sebagai penumpang. Ah, kadang istilah penumpang ini menggangguku saja. Sepertinya kita tak berdaya karena menumpang. Tapi, yasudahlah..toh itu istilah yang sudah baku, kalau aku ganti sebagai penikmat transportasi sepertinya malah bikin kacau saja. hehe.. Sebagai penumpang, ketika kita datang dalam stasiun kehidupan, semua akan terasa mudah saat tiket dan kereta sudah tersedia. Tapi kadang kita juga harus menunggu dengan sabar meski tiket impian itu sudah kita genggam karena keretanya belum datang. Istilah di stasiun beneran sih keretanya terlambat. hehe.. Lalu apa yang harus kita lakukan selama menunggu? Mencari tiket baru untuk kereta yang sudah tersedia? Ataukah menunggu saja?

Ketika kereta kehidupan yang akan membawa kita ke impian itu datang, bukankah kadang kita pun harus rela berebut masuk dengan penumpang yang lain? Sama dengan kehidupan, impian itu kadang bukan hanya milik kita seorang. Dalam gerbong itu masih banyak orang yang ingin meraih atau menuju impian yang sama. Lalu apa yang membedakan kita dari mereka? Yang membuat peluang kita jauh lebih besar dari mereka? Ya bekal pelengkap yang kita bawa, selain tiket tentunya.

Jadi, siapkan diri kita sebelum memutuskan akan kemana kita menuju, siapkan tiket dan juga bekal. Stasiun itu selalu sedia dengan kereta-kereta kehidupannya yang akan membawa kita pada tujuan akhir. Teman, sekiranya itu saja pendapatku. Nikmati perjalanan yang telah kita pilih, mudah-mudahan kita sampai di tujuan dengan selamat dan bertemu dengan impian yang telah tertera di tiket kehidupan.

Amin.

-Dariku, takjubku pada semesta raya.

Kereta kehidupan.

2 thoughts on “Kereta kehidupan.

  1. hmmm…
    hidup
    kehidupan
    aku tak bisa memaknainya/menyamakan dengan sekitar yang ada, baik itu kereta – stasiun – terminal – dll. karna ada batas ruang didalamnya.
    tetapi…bila aku memaknai laku prilaku [bukan ruang hidup – kehidupan] bisa aku ibaratkan dengan kebiasaan atau objek…
    contoh;
    – kopi pekat tak perlu gula
    cinta/kasih/sayang tek perlu katakata merayu
    – sambal/cabe, terlalu sering/banyak gak baik tuk pencernaan dll
    ibaratnya kapok tapi diulangi lagi
    – dua sendok dalam semangkok salad
    dll
    begitu sayang… muuaaacch
    entahlah denganmu
    thanks u
    salam
    GBU

  2. wuh,,,
    memang bingung kehidupan ini,,,
    hidup ini begitu unik ,,,
    kehidupan ini hanya dapat dirasakan oleh kita sendiri,,
    sehingga kehidupan itu gak bisa di ungkapkan dengan kata2,,,
    itu sih menurut aq,,,
    tapi mungkin dapat di tuliskan untuk beberapa orang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s