Hikayat pagi.


Ketika barisan awan di semenanjung Utara bergerak pelan, matahari mungkin sudah merias dirinya di ufuk Barat. Tapi, keduanya tak berharap akan menghangatkan pagimu dengan senyuman, tidak, mereka hanya bertasbih dan sujudkan kuasanya pada Cinta.

Mungkin kau berpikir, malam terlalu pekat dan disana terbaring jasad-jasad lemah yang membusuk karena patah asa. Kesombonganmu hanyalah gula darah. Tak lebih dari itu meski sedikit pun. Masih terlalu gelap untukmu bermuram, bahkan kau pun tak tahu apa esok masih ada.

Bangunlah, kau masih punya hak untuk berharap. Bukan karena tak dikabulkan doamu yang lalu maka kau merasa ditepikan Cinta, tapi bangun dan berharaplah karena kau terlahir untuk bahagia. Pagi tidak pernah memaksakan dirinya untuk cerah, ia hanya menyiapkan sebaik mungkin hamparan harap untuk anak-anak Adam berkelana. Sepertimu, berjalanlah. Awan dan matahari akan menemanimu hingga di cakrawala senja. Kau tak sendiri, bukan?

Sekarang mungkin kau hanya sebatang kayu kering. Rapuh dan mudah patah. Tapi darinya akan kau bakar dunia dengan asa yang lebih hebat. Bangun dan berlarilah, pagi tak kan menunggumu. Jemput harapan yang kau sisipkan di sayap rembulan. Bangunlah sebelum harapan itu terlalu sesak dan tak ada tempat untukmu mengeluh.

Pagi tak kan menunggumu.

-Untuk mereka yang merasa lelah berjuang.

Hikayat pagi.

One thought on “Hikayat pagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s