Hikayat Sang Pencinta.


Aku adalah burung Nuri, kicau dan warna buluku tak ubahnya selimut dosa: karenanya aku tertawan dalam sangkar. Kerinduanku pada ranting dahan dan aroma ilalang mengantar tubuhku pada jerat. Lalu di manakah rahasia tersimpan? Pada jerat ataukah kerinduan?

Kekasihku, Mereka tak mampu mencerna bentuk cintaku kepadamu: jika mampu, maka air mata logika akan habis hanya pada permulaan cerita. Orang-orang bijak itu berkata kepadaku, menutup jalan kebahagiaan adalah perbuatan yang bebal. Benar, sebebal itulah aku mencintaimu. Kemudian musafir itu berkata, tak ada yang lebih indah dari oase di Sahara. Sekali lagi, benar, seperti itulah rasa sayangku kepadamu. Lidah akan mengecap pahit ketika kau berikan racun kepadanya, sedangkan gula akan menyadarkannya pada rasa manis.

Ketika saudagar memasukkan burung gagak ke dalam sangkarmu, mereka pikir gagak akan menjadi pengantin yang tepat untuk seekor Nuri: dimanakah pemahaman mereka tentang cinta? Seekor lebah bertanya kepadaku “Saudaraku, kenapa kau biarkan Gagak itu mengambil mempelaimu? Sedangkan kau tahu ia merindukan tiap hembusan nafasmu?!”, Aku terdiam dalam jawabku ” Adakah kuasa yang melebihi kuasaNya yang menciptakan nafas? Jerat ini merantai jasadku, tidak dengan jiwaku!”

Seandainya kalian mengerti apa yang terpisahkan: Lautan tak kan sanggup menampung air matamu. Begitulah aku dan kekasihku. Manusia berharap dapat melihat sedikit saja rahasia langit di masa depan
tentang dirinya: sekiranya bisa, mereka akan meluruh tak maujud setelahnya.

Gagak itu terus mematuk Nuri dengan liarnya: karena kepatuhan maka diam lebih baik. Saudagar melihatnya sebagai sebuah percintaan yang luar biasa. Berharap kelak akan lahir anak-anak keajaiban dari rahim burung Nuri. Sedangkan mataku hanya menatap darah kebinasaan. Tidak, yang tersisa hanyalah sebelah sayap yang patah. Mempelaiku tersungkur dalam kerinduannya. Sangkar emas itu membatasi diri dan kekasihnya: seperti halnya jiwa dan jasad.

Suatu pagi, Saudagar itu hanya mendapati sepasang pengantinnya selayak dua burung bodoh yang hanya menghabiskan bekal. Gagak itu masih berdiri dengan gagah, paruhnya yang hitam kelam seakan sebuah jelmaan dari
tongkat penyihir Fir’aun. Tak ubahnya burung Nuri yang kini memucat: kepedihan telah melunturkan keindahan warna bulunya. Kepedihan seperti apa yang mampu merubah putih menjadi hitam?

Saudagar itu kemudian melepas burung Nuri dari sangkarnya, sedangkan gagak hitam masih tetap di dalam sangkar emas dengan nafsu yang tak juga mereda: Nuri adalah kesayangan saudagar, tapi
dia memilih gagak. Kekuasaan menjadikan mata jasad saudagar lebih terang dibanding mata hatinya.

Kekasihku kini terjerembab dalam ketidakmampuan lahiriahnya. Dalam duka ia mampu melihatku, dalam sengsara ia masih mengenaliku, membebaskan kakiku dari jerat. Keyakinan apa yang mampu menahanku untuk tak mematahkan sebelah sayapku, kemudian mengikatnya dengan sayap kekasihku yang patah? Jasad kami telah bersatu: bukankah burung hanya mampu terbang dengan dua sayap?

Saudagar hanya mendapati gagak hitam yang kelam di senja. kerinduannya pada kicau dan warna bulu Nuri kian tak terbendung, tapi tak ia dapati Nuri kesayangannya di taman mawar. Derap langkah takdir terdengar seperti ringkik keledai di pintu belakang rumah: kenyataan mendobrak keras pintu depan hingga hancur berantakan. Saudagar hanya tertunduk, air matanya menjadi berkah kepada tanah. Hatinya menjadi ladang yang subur untuk rasa sesal.

Aku dan mempelaiku tak terpisah, sayap kami telah menyatu begitu pun jiwa kami. Kicau kami akan menjadi nyanyian suci penggembala, warna kami akan menjadi inspirasi pelangi di langit.

Dari kisah ini, masihkah kau bertanya sebentuk apa cintaku kepada kekasihku? Tidak, karena kekasihkulah yang berhak menjawabnya. Dialah pencinta sejati, dialah yang menjadikan kalian mengerti.

Sedangkan aku, hanyalah seekor burung Nuri.

-untuk pencinta yang darinya bermula, dia.

Hikayat Sang Pencinta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s