Menikmati apa yang tak ingin kita nikmati.


Menikmati hal yang tak pernah ingin kita nikmati. Ya, kalimat ini seakan menggelitik dadaku yang rapuh hingga tulang-tulangku berdetak keras. Tapi kadang itu menjadi realita yang harus kita terima. Hal yang hadir sebagai konsekuensi tiap pemilihan yang telah kita buat.

Sebagian kita akan memilih untuk lari dan membiarkan rasa sakit terus saja hadir akibat pemilihan yang telah kita buat sebelumnya, tapi akankah kita terus mampu membuat pembenaran pada rasa sakit itu? Maksudku, akankah kita biarkan hidup kita dibayangi rasa sakit yang semestinya bisa kita reda? Tentu saja sakit tak bisa begitu saja hilang dengan penerimaan-penerimaan yang kita buat, tapi setidaknya akan mereda, dan itu lebih baik bukan?

Satu hal sederhana, dilema. Ya, dilema seperti sebuah kewajiban yang harus datang dan hadir di saat kita benar-benar tak menginginkannya. Akan selalu ada hal yang tak ingin kita pilih, karena bisa saja kita mengorbankan sesuatu, atau mungkin karena kita benar-benar tak punya kuasa untuk meyakini pilihan itu. Setelah kita memilih satu jalan keluar dari dilema itu, mampukah kita biarkan rasa sakit yang mungkin atau pasti hadir itu mereda? Dengan pembenaran? Dengan memalingkan rasa? Tidak, tentu saja tak semudah itu.

Menikmati hal yang tak pernah ingin kita nikmati sepertinya hal rumit yang sebenarnya sederhana saja menurutku. Sekali lagi, ini menurutku, bukan kalian. Menjalaninya dengan keyakinan pada kebaikan yang Tuhan berikan adalah satu hal yang bisa kita pilih. Mengikhlaskannya hingga semua berjalan wajar. Susah? Tentu saja, kalau tidak susah maka orang tak akan sesulit itu bersikap ikhlas. Apa ini berkaitan dengan keyakinan beragama? Religius? Jawabku, pasti. Aku pun tidak mengatakan aku telah menjadi pribadi yang ikhlas, karena aku masih mencari bentuk keikhlasan pada sikapku sendiri.

Dilema, sama saja dengan masalah hidup lainnya. Ia akan datang dan kemudian pergi. Sebuah alur yang memang kadang hadir seperti sebuah kewajiban saja. Kenapa kewajiban? Hampir tiap dari kita pernah merasakannya bukan? Kita harus memilih satu diantara beberapa pilihan,s esederhana itu. Memang dengan alasan itu tak semestinya aku mengatakan dilema itu sebuah kewajiban yang akan dialami manusia, tapi begitulah adanya.

Menikmati dilema dan menjadikannya kewajaran sebagai hal yang memang harus kita lewati mungkin akan lebih meredakan rasa sakit yang mungkin hadir akibat pemilihan itu, dibanding kita terus berputar dan terpaku pada ketidakmampuan menjalaninya. Nikmatilah apapun yang telah kita ambil keputusan beserta konsekuensinya.

Bukankah tiap pilihan itu akan selalu menghasilkan pilihan baru dikemudian hari? Hidup akan selalu terisi dengan pilihan-pilihan, seperti halnya sesuatu yang diciptakan berpasangan, dan kita terlahir untuk memilih pilihan-pilihan itu.

Menikmati hal yang tak ingin kita nikmati, adalah sebuah proses pendewasaan diri menurutku. Dimana satu tahap penerimaan dan kepasrahan berlaku. Selanjutnya, biarkan dirimu merasa ikhlas yang datang dengan sendirinya.

Sekali lagi, apa yang aku tulis di sini bukanlah untuk menganjurkan kita ikhlas dengan merelakan segala sesuatunya begitu saja, tapi ikhlas untuk menikmati sesuatu yang benar-benar tak pernah kita inginkan. Hidup akan berlalu, dan semua pasti akan baik-baik saja, apapun konsekuensi, baik itu pada diri kita sendiri atau pun pada orang lain, biarlah itu terjadi. Rasa sakit yang hadir, akan sedikit mereda ketika kita berani untuk memilih dan menjalaninya.

Semoga.

-karena hidup teramat berarti.

Menikmati apa yang tak ingin kita nikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s