Jalan cinta: Pengembaraan menuju hakikat.


Aku berjalan susuri rimbunnya pepohonan derita, aku selami kedalaman sengsara. Tidak, bukan aku lari, ini jalanku mencari cinta. Hal yang menjadikanku tak berbeda dengan debu. Apa yang membuamu berpikir telah menemukan cinta sedangkan di hatimu tak ada luka? Tidak kawan, cinta ada karena kau pernah merasa kekosongan, sakit dan duka. Cinta yang hadir pada permulaan adalah gerbang untuk sebuah perjalanan panjang. Telah aku serahkan diriku dalam kelemahan untuk kau tawan, jerat aku lalu mangsalah aku: cinta. Ikutlah denganku kawan, perjalanan ini begitu panjang.

Masih ingatkah kau pada sepasang Nuri? Ketika saudagar memisahkan mereka, burung Nuri itu terus mematuk gembok baja yang mengunci kekasihnya dalam sangkar hingga paruhnya retak dan berdarah, sementara Sang Kekasih menatapnya sayu tanpa mampu lagi bersuara. Itulah cinta, selama masih ada derita dan luka, maka cinta selalu ada. Masuklah ke hutan dan siapkan busur panahmu dengan baik, kalau tidak, kau yang akan menjadi mangsa dari buruanmu sendiri: nafsu. Dalam cinta ilahiah, kau tak akan menemukan dirimu sebagai pemburu, kaulah mangsa dari cinta.

Pergantian musim akan melahirkan kehidupan yang baru. Selalu ada kematian dan kelahiran, keduanya tak akan terhenti sebelum cinta memanggilnya. Gunung akan kokoh berdiri selama ada cinta di dalamnya, maka dakilah gunung dan temukan harta yang terpendam di dalamnya : kepatuhan. Kodrat manusia adalah lahir dengan kehendak, sebagian akan menjadi hak dan sebagian akan menjadi kewajiban. Jangan kau lupakan sesuatu hal karena hal lain sudah kau dapatkan, akan selalu ada bukti untukmu. Sifat cinta adalah bukti. Apa yang akan kau buktikan kepada cinta? Bukankah ia selalu menuntut sebuah bukti darimu?

Kawan, perjalanan mencari cinta sangatlah berliku. Sudah ku katakan kepadamu, bekali dirimu dengan busur panah terhebat. Jika kau tak mampu menaklukkan, maka taklukkan dirimu di hadapannya. Ini bukan tentang menyerah, adakah hal yang menyebabkan api menjadi taman mawar bagi Ibrahim a.s? Api luruhkan dirinya menjadi cinta, Ibrahim a.s takluk karena cintanya. Keduanya melebur dalam kekuatan cinta yang telah terlupakan oleh sebagian. Jangan menganggap sesuatu hal itu sebatas dari cawan yang kau pegang, lihatlah mata air yang darinya kau cukupkan cawan pengetahuanmu.

Bayangkanlah senyum kekasih yang kini telah menyatu dengan kekasihnya. Seperti itulah senyum para syuhada, seperti itulah kesejukkan oase yang dirasakan musafir. Bahagialah mereka yang telah melebur dalam cinta. Demikianlah aku dan keledai cintaku yang hina ini, perjalanan masih sangat panjang dan berliku.

Kawan, semoga kelak kita bertemu di penghujung jalan.

-Ketika aku mencintaimu maka hilanglah cinta di mataku: cahaya mata.

Jalan cinta: Pengembaraan menuju hakikat.

3 thoughts on “Jalan cinta: Pengembaraan menuju hakikat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s