Perjodohan: Dilema adat yang mengekang hati.


Sekali lagi perulangan itu terjadi, seperti kata perempuanku, semua masalah itu sebenarnya sama, hanya kita melihat dan mengambil jalan keluar yang berbeda antar setiap individunya.

Benar, aku sangat setuju dengan itu, kita manusia yang di anugerahi otak, terlepas dari tingkat intelegensi, kita akan mengambil langkah yang berbeda untuk masalah sama yang juga dialami orang lain. Sebagai contoh sederhana, saat kita tak punya uang, kita akan menyelesaikannya dengan bekerja, akan tetapi bagi sebagian orang, mencuri adalah jalan yang mungkin dipilih. Maksudnya, satu masalah yang sama akan saja menghasilkan reaksi yang berbeda.

Kali ini, perulangan yang terjadi berawal dari hal klasik manusia adat, perjodohan. Kenapa aku menyebutnya hal klasik manusia adat, karena perjodohan ini sebenarnya berlaku atau terjadi pada mereka yang masih memegang teguh nilai-nilai adat. Jangan menganggap adat di sini adalah pola pikir lama, bukan, bukan itu maksudku. Adat yang aku maksud lebih mengarah pada keteguhan pemikiran yang bersandar pada kepatuhan nilai-nilai harga diri dan kewajaran yang berlaku karena keterbiasaan sikap.

Bila perjodohan itu terjadi karena masalah ekonomi, malah mungkin itu seperti transaksi saja menurutku. Apalagi hanya karena balas budi, bukankah itu tak jauh berbeda dengan menyerahkan  kehidupan anak begitu saja? lupakan semua pertimbangan, karena kejujuran pada alasan kenapa perjodohan itu terjadi jauh lebih penting. Adakah orang tua yang ikhlas menyerahkan hidup anaknya hanya demi setumpuk materi? Benarkah? Atau lebih berarti dari harga diri??

Bila perjodohan itu terjadi karena memang permintaan seorang anak, mungkin akan lebih sedikit bergeser maknanya, itu sama seperti seorang anak yang menyerahkan takdir pernikaan ke orang tua, dan itu bukanlah perjodohan, itu sebuah permintaan. Perjodohan yang aku maksud di sini adalah perjodohan yang bermula dari ketidaksetujuan seorang anak pada ketentuan orang tuanya.

Aku tidak mengatakan perjodohan itu buruk, sungguh tidak, karena aku sadar, perjodohan itu hanyalah sebuah jalan, sama seperti pernikahan yang berlaku sewajarnya melalui proses yang mengalir begitu saja.

Kau bisa saja mengatakan “Kau menulis seperti ini karena kau belum menjadi orang tua”, kau benar kawan, aku memang belum menjadi orang tua, belum menjadi ayah dengan anak yang siap dinikahkan, aku belum juga pernah dijodohkan, tapi aku mencoba menulis ini dari sudut pandang yang sama, sudut pandang dari mereka yang dijodohkan tanpa pernah bisa menolak meski mereka tak ingin perjodohan itu terjadi.

Mungkin berdasar sejarah, sebagian dari kita memang berlaku perjodohan, bahkan Nabi pun berlaku demikian, dan mereka yang mengaku orang bijak, atau keluarga kita? Pembenaran yang diciptakan ketika orang tua merasa mengerti apa yang paling baik untuk kehidupan anaknya, baik itu materi atau kedewasaan sikap. Sungguh itu tak lebih dari pembenaran yang memang mungkin saja benar, tapi sekali lagi, bukankah hidup itu hak pribadi yang sangat bersifat private tiap individunya?

Lalu apakah kita harus menolaknya? Bukan, tulisanku ini pun bahkan tidak menganjurkan atau mengajak kita untuk menolak perjodohan, tapi kenapa dan apa yang terjadi dari perjodohan itu sendiri. Setiap manusia akan menjalani hal dengan konsekuensi dan itu mutlak. Tak ada yang berlaku dan kemudian berlalu begitu saja.

Orang tua yang menjodohkan anaknya selalu punya alasan dan pertimbangan baik secara logika atau pun rasionya. Tapi, apakah mereka memahami apa yang di inginkan seorang anak? Mari melihat dari sudut pandang ketulusan, apakah anak mereka dengan tulus merelakan sisa hidupnya bersanding dengan orang yang bahkan tak pernah sedikit pun mereka bayangkan? Cinta memang bisa saja datang karena kebiasaan, tapi apa yan terjadi pada mereka yang harus dipisahkan karena perjodohan? Sedangkan dalam hati mereka menangis? Melepas sebuah impian?

Kau boleh saja menghadirkan seribu contoh perjodohan yang baik, tapi tulisan ini hanya ingin menyajikan mereka yang melakukan perjodohan dengan iringan air mata luka. Kau, yang sekarang mencintai kekasihmu, impianmu adalah menjalani hidup dengannya, mempunyai anak-anak yang lucu, rumah sederhana dan keluarga yang hangat, tiba-tiba saja orang tuamu datang dengan segenggam kata harapan agar kau menerima sebuah perjodohan. Mampukah kau melepas semua impianmu itu dengan tulus? Karena orang tua? Sebagai wujud bakti?

Lalu apa yang terjadi dengan mereka yang terus berjuang dan menentangnya? Apakah itu sebuah dosa? Dosa yang lahir karena keyakinan dan perjuangan untuk menentukan jalan hidup? Menjadi anak yang durhaka?
Saat tulisan ini aku tulis, sebagian mereka kini menangis dan terdiam, tanpa bisa memahami, dan pada akhirnya hanya menyerahkan semuanya ke Dia yang Maha Adil.

Berharap akan ada kebaikan di setiap langkah yang dipilih. Kau yang pernah merasakan, kau yang pernah mencintai, kau yang kini hidup dengan orang yang dipilihkan untukmu, mungkin kau bisa berbagi dengan mereka yang masih terdiam tanpa tahu harus kemana berbagi ceritanya. Otak mereka kini pekat dengan emosi yang tak bisa mereka urai.

Kawan, sahabat dan saudaraku, berbegilah dengan mereka, sungguh bukan karena kau yang paling benar tapi karena mereka tak tahu harus berbuat apa. Semoga kau mau membantunya.

-bukankah cinta tak mampu dipaksakan?

Perjodohan: Dilema adat yang mengekang hati.

7 thoughts on “Perjodohan: Dilema adat yang mengekang hati.

  1. Betul tapi jadi serba salah jika orang tua masih ber keras hati menjodohkan jika anaknya tidak bersedia.

  2. jie says:

    Persoalan yang sukar. anak yang terpaksa memilih antara perasaan orang tua atau perasaan sendiri. ibu bapa yang memilih antara perasaan mereka atau anak mereka. Tiada yang dapat menjamin benar atau salah pilihan itu. Bagi anak yang taat, mungkin saja bisa terima keputusan dengan hati terbuka. Bagi yang punya impian lain, pasti saja akan menimbulkan konflik. Jika ada perasaan saling memahami dan tolak ansur, pasti semua bisa diselesaikan. Bagi mereka yang tidak bisa menolak dan dalam keterpaksaan, pasti rasa ini akan berbekas dalam hati mereka. Dari cinta, timbul benci. Dan bisa saja membuatkan mereka jauh dari orang tua mereka…aku ga pernah hadapi situasi begini, tapi padaku, luahkan saja apa yang terbuku di hati pada orang tua supaya mereka tau apa perasaan anak mereka. Biar ga ada penyesalan di belakang hari.

  3. Tweety says:

    mengenai masalah perjodohan oleh orang tua.. saya sedang mengalami proses tersebut..

    memahami masalah ini kita tidak bisa menyatakan hal ini salah atau tidak, ini hanya sebuah jalan, tergantng bagaimana kita menilai masalah tersebut. Alangkah baiknya kita coba belajar mencermati masalah perjodohan beberapa titik sudut pandang ( individu yang terlibat )..

    Sudut Pandang Orang Tua..

    Orang tua melakukan hal ini bukan sembarang menentukan pilihan. kadang perhitungan mereka jauh dari pemikiran kita sebagi anak.. orang tua malah bisa jadi 100 lebih depan memikirkan langkah kenapa mereka mencoba menjodohkan anaknya dengan seseorang..
    Kenapa orang tua memilih jalan seperti ini.. dalam pandangan beberapa orang tua mereka menilai setelah melihat kondisi (sifat, polapikir, dll) anaknya juga dengan membandingkan dengan kondisi object yang disuguhkan.. dan merasa ” mungkin ” cocok dengan anaknya.. mungkin disini baru perhitungan mereka sebagai orang tua yang mengenal sebagian sifat anaknya dan sifat object yang dijodohkan,secara sederahana dapat disimpulkan bila anakku disandingkan dengan pilihan nya tersebut itu akan baik untuk anaknya, dan dapat bersatu dengan melanjutkan perjodohannya (dalam kacamata orang tua)..

    Sebenarnya banyak pertimbangan dan alasan orang tua yang tak bisa diterka oleh anak nya sendiri,, yang sampai saat ini saya sendiri sebagi anak masih belum mengetahui.. baru satu atau dua hal.. kebenaran pandangan dari orang tua ini masih dalam pandangan seorang anak yang masih menerka maksud orang tua nya..

    Pandangan Anak,-

    Sebagai anak yang mengalami hal ini banyak pro-kontra mengenai masalahnya.. dari planing yang sudah direncanakan sebelumnya dan impian mengenai calon seperti apa yang akan menjadi pendamping hidup kita.
    untuk masalah pandangan dri anak tak perlu dijelaskan. hanya tanya saja pada diri sendiri bagaimana diri kita menyikapi masalah ini.

    Ini hanya pandangan pribadi diri saya sendiri. pada awalnya saya pribadi takut menjalani ini semua.. bagaimana kehidupan pernikahan dan keluarga kecil kita dengan menikah dengan orang yang baru dikenal atau dengan orang yang dipilihkan orang tua..

    dalam menjalani hal ini saya pribadi hanya belajar positiv menghadapi perjodohan, meskipun banyak hal negatif yang bertentangan denga sifat egoitas diri sendiri.. mungkin sebagian orang menilai “Ini hidup gw, yang akan nikah itu gw, yang akan menjalankan pernikahan ini gw bukan orang tua”..

    Yup bener.. saya juga mengalami perasaan yang sama..
    Kembali kepada hati kita (diri saya sendiri)
    Saya mencoba belajar menghargai orang tua..
    Belajar memahami pemikiran mereka..
    Belajar merasakan hati dan perasaan mereka..
    Belajar menyakini bahwa apa yang mereka lakukan itu akan menjadi baik buat kita..
    dan banyak pertimbangan untuk mencoba menerima perjodohan tersebut..

    hhmmm.. banyak perang dengan batin sendiri..
    Kalau boleh saran bagi yang menolak perjodohan ini..

    Komunikasi dengan orang tua dengan komuniksi yang terbaik. komunikasi yang kurang baik hanya aakan membuat masalah menjadi lebih keruh dan bagi sebagian orang tua akan merasa terluka dengan cara penolakan anaknya..

    Yakinkan penolakan kita itu dengan pemikiran dan perhitungan yang bisa di terima orang tua..

    Baiknya jangan menggunakan emosi yang berlebih ketika mengkomukasikan dengan orang tua..

    Intonasi dan volume Suara ketika berbicara benar2 dikontrol, permasalahan akan lebih keruh ketika kita mengeluakan kata dengan intonasi dan volume yang dianggap orang tua “ngajak perang”..

    Ini hanya pemikiran pribadi yang sedang belajar sesuatu dengan cara yang beda..

    Apa yang kita pikirkan belum tentu benar bisa jadi salah..
    Apa yang orang lain pikirkan yang menurut kita salah bisa saja benar..

    perhitunga logika manusia kadang tidak selamanya cocok bila di implementasikan dalam kehidupan.. banyak faktor lain yang menghadang logika kita..

  4. Betul bgt tuh Gan,, w msuk bgt ke cerita yg buat,, w di jodohin ma ortu tapi w sndri udh pny pilihan yg ga bs gitu aj w lupakan apalgi w tinggalkan,, tuh ga mngkin bgt Gan,, ortu w sbner nya udh tau dgn ce yg jdi pilihan w,, tapi karna pengalaman buruk ortu w yg bikin w ga disetujui utk berhbungan dengan ce w itu,, jujur aja spontan, pikiran jadi busar ketika ortu w ga ad respect sama sekali dgn pilihan w,, kecewa, putus asa, sedih jadi satu,, tapi udh w putusin buat terus berhbngan ma ce itu karna w ga mau jdi orng yg menyesali hidup nya seumur hidup,, segitu aj Gan kisah kehidupan yg lgi w jalanin. Thanks.

  5. Andai s’tiap Rasa dpt d rasa dan d lihat..mngkin tdk prlu d katakan k’tika Kita m’ngatakan “TIDAK”..
    Stiap orang tntu sdh tau dan m’rasakan ny Sndiri..
    S’tiap orang tntu kan Sadar,bhwa mslah RASA adlh Hak yg Hakiki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s