Lingkaran waktu: Takdir yang tepikan harap di ujung gelisah.


Malam.

Kenyataan merajamku dengan butiran cemburu, menepikan jasadku di antara keping pilihan. Kematianku adalah doa yang nyata. Aku tak juga mati! Meski kadang ku tebas sendiri jiwaku dengan kedewasaan logika. Kini ku leTakkan harapku di serat halus Takdir dan sebilah pisau yang kau genggam, matikan aku sekali lagi atau selamatkan aku dan dekap harapku.

Mata getir takdir menatapku rakus, tak berkedip tiap ku senandungkan namamu. Taringnya meruncing penuh liur dendam. Dia cemburu! Gemeretak amarahnya meliuk panas di telingaku, benci.Tidurlah sayang, biar aku yang terjaga malam ini. Aku tak kan mati! Bila pun pagi kau menemukanku mati, itu hanya jasadku bukan cintaku.

Pagi.

Kematian yang ku tunggu tak datang dari medan perang, bukan pula dari tikaman lawan. Ia menyelinap pelan dari selimut kesetiaan. Mengendap dan menyiksa jiwaku perlahan. Mengiris ketegaranku, menyayat keyakinanku. Atas nama cinta, aku mati dalam tanyaku tentangmu. Sendiri.

Senja.

Tak cukupkah kematianku ini hingga kau mencabik jasadku dan membakarnya dengan api cemburu? Setelahnya, mungkin tak ada yang tersisa. Tapi namaku abadi. Kau tak bisa menghapusnya meski dengan deras air mata dan balutan sesal. Ambilah tulang rusukku dari abu itu, lihatlah dengan jelas nama yang tergores di sana, namamu. Aku mencintaimu hingga jasad dan jiwaku menuliskannya di tulang yang suci itu.

Perempuanku.

Rohku kini mengembara di antara semilir lembah kematian. Tak lagi utuh. Penerimaan yang terjaga kini melebur ke tungku amarah. Aku menjadikan setiaku sebagai kuda tak berkaki, ketulusanku pun enggan lagi menghampiri. Ceritaku tak tertulis, dan kau perempuanku, alam kan mengajarkanmu arti kedewasaan.

Makam.

Tulang ini tak lagi tegak. Ia terbaring berselimut debu derita. Tak lagi ada darah, tak lagi ada desah gelisah. Sepi. Tapi kau tahu dimana aku membusuk. Makamku ada di hatimu. Kelak bila kau mengenangku, makam berbatu ini akan selalu ada. Di situ ku tidurkan jasadku untukmu. Tanpa nisan tanpa nama, tanpa cerita.

: Takdir.

-dan hidup selalu menyeret harapan, maka bertahan dan berjuanglah, untuk cintamu.

Lingkaran waktu: Takdir yang tepikan harap di ujung gelisah.

2 thoughts on “Lingkaran waktu: Takdir yang tepikan harap di ujung gelisah.

  1. Dwi says:

    Lam kenal mas Novanka Raja..

    ini sama seperti isi hatiku..”

    Aku Muak deangan Hukum Adat yang menjadi belenggu Zaman,
    cinta ku harus berakhir tanpa Restu dari keluarganya
    dan Atas Nama sebuah kewajiban dan bakti pada keluarga ,sesaat lagi dia kan menikah dengan gadis pilihan keluarganya..

    ini adalah detik2 waktu yang tersakit dihidupku seperti melihan ombak besar yang siap menelanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s