Ujung jalan kehidupan: Dimana?


Ada beberapa hal yang membuatku berpikir: Akan ada dimana ujung jalan kehidupan?

Okay, mungkin semua akan berpendapat bahwa kehidupan dunia ini akan berujung pada kehidupan akhirat. Akhirat ini sendiri mungkin akan masih bisa diperdebatkan, tentu bila kau adalah seorang penganut agama yang meyakini bahwa ada kehidupan setelah kematian maka akhirat tentu bukan sekedar ujung jalan, karena sesungguhnya ujung itu hanyalah pintu gerbang untuk kehidupan yang lain. Lalu, jika kau adalah bukan penganut kehidupan beragama, mungkin akan berpendapat bahwa ujung kehidupan hanyalah pada fase kematian. Baiklah, kita singkirkan dulu aspek agama dari persoalan ini karena tulisan ini tak akan mengarah kesana.

Ujung jalan kehidupan yang dimaksud dalam tulisan ini akan cenderung berakar pada masalah-masalah yang selalu saja hadir dalam kehidupan kita. Masalah? Tentu saja. Bukankah kita akan selalu merasa ada masalah meski pun kita telah melewati sebuah masalah yang bahkan sempat kita anggap sebagai sebuah masalah yang sangat besar dalam hidup kita? Lalu sebuah pertanyaan senantiasa bergelayut di hati “Ujung dari semua ini apa?”.

Kawan, sebuah masalah sesungguhnya telah sampai pada ujung jalan ketika masalah itu berganti menjadi masalah yang lain. Jika kemudian ada masalah lain yang masih berhubungan dengan masalah itu atau sebagai tindak lanjut masalah yang sudah kita jalani, itu adalah sebuah masalah yang baru. Ingat, setiap hal yang berlalu tak mampu kita ubah. Satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah mencegah. Hey, siapa yang akan tahu dengan apa yang akan terjadi dengan esok hari? Setepat apa pun tindakan pencegahan yang kita lakukan, anggaplah itu sebuah pemecahan untuk masalah awal. Terkadang kita terlalu sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan hadir dari sebuah masalah, itu tentu saja akan sangat membantu bagi kita, tapi, ketika kita bisa membuat sebuah penyelesaian untuk masalah awal maka semua masalah yang akan timbul menjadi lebih kecil kemungkinannya atau bahkan kita telah menyelesaikan sebuah masalah sebelum masalah baru itu datang.

Mungkin kau akan berkata “Lalu, dimana ujungnya?”, “Bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik?”. Ah, itu masih terlalu jauh, kawan. Apa yang aku tulis ini hanyalah berdasar pada apa yang selama ini aku rasakan, sekali lagi, mungkin tak berlaku untuk semuanya. Baiklah, akan kubahas beberapa hal yang sekiranya mampu aku uraikan tentang sebuah ujung dari jalan masalah dan bagaimana kita seharusnya memposisikan masalah tersebut.

Pertama.

Masalah adalah sebuah penyelesaian.

Mungkin sedikit aneh, kenapa aku menempatkan kalimat itu pada urutan pertama. Okay, akan aku urai lebih lanjut. Sebuah masalah yang datang sesungguhnya adalah sebuah penyelesaian dari apa yang sedang kita hadapi. Jika kemudian kita dihadapkan pada sebuah masalah, sesungguhnya kita sedang berhadapan langsung dengan sebuah penyelesaian dalam kehidupan kita. Jika sebuah masalah tidak ada penyelesaiannya maka yakinlah itu bukan sebuah masalah dan bukan sebuah hal yang harus dipermasalahkan. Sederhana bukan? Jadi buanglah masalah yang tidak bisa dipermasalahkan itu dari pikiran kita, jika kemudian itu menimbulkan sebuah masalah maka itulah sesungguhnya masalah yang ada. Saat semua bisa kita lakukan, maka kita telah mengurangi sebuah masalah yang tak perlu ada dan kita tetap mendapat sebuah penyelesaian yang terbaik.

Kedua.

Masalah adalah anak tangga kehidupan.

Banyak dari kita yang akan merasa sangat depresi saat menghadapi sebuah masalah. Tidakkah kita sadari? Setiap masalah akan membuat kita semakin memahami sebuah hal. Ia seperti anak tangga dan seharusnya dijadikan sebagai sebuah anak tangga menuju fase kehidupan yang lebih baik. Ketika sebuah masalah datang dan kemudian kita menjadi orang yang benar-benar ‘jatuh’ sebagai akibatnya, maka itu bukanlah sebuah masalah. Sebuah masalah seharusnya membuat kita makin naik, makin tinggi menapaki kehidupan. Ingat, segala sesuatu tetap ada sebab akibat. Namun, seperti halnya anak tangga, maka sebuah masalah juga bisa kita jadikan untuk memulai sebuah awal baru. Saat kita ada masalah di ‘tingkat’ atas, maka kadang masalah akan membuat kita ‘turun’ ke tempat yang memang kita akan merasa nyaman.

Ketiga.

Masalah adalah mutlak.

Nah, ini yang mungkin seharusnya dapat kita ambil sikap dengan bijak. Setiap liku hidup selalu saja ada masalah. Sejak kita masih bayi hingga tumbuh seperti sekarang, bukankah selalu saja ada masalah? Benar, masalah adalah hal yang mutlak. Ketika kita tak memiliki maslaah, maka sebenarnya kita telah sampai pada titik ilahiah, unsur murni yang menjadikan semua masalah bukanlah masalah.

Sahabatku, engkau yang sedang beersedih, dan kau yang sekedar mengingat masalah yang pernah kau alami, masalah pernah dan akan selalu ada. Kenali masalahmu dan perlakukan ia dengan baik, karena hidup adalah kebaikan.

Ujung jalan kehidupan adalah ujung dari sebuah perjalanan panjang kita. Apapun keras dan terjalnya jalan itu, pastikan kita sampai di tujuan yang sesuai dengan awal dan rencana perjalanan. Karena mudah dan susah akan tetap menuntun kita ke arah yang benar selama tujuan itu tetap kita pegang kuat.

Salam hangat,

NR.

Ujung jalan kehidupan: Dimana?

One thought on “Ujung jalan kehidupan: Dimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s