Kami menunggumu, Tu(h)an.


Katakan padaku, dimana letak bahagia?

Pada hujan yang tumbuhkan belukar? Pada  matahari yang suburkan ilalang?

Musim berganti, waktu berlalu. Jadi, dimana letak awal dan akhir?

Tunjukkan padaku jika kau tahu itu. Karena lautan tak selalu berbatas pasir,

Airmata tak mampu lagi memetakan kesedihan, repih asa mengalir deras susuri gurat sesal.

Kau dan aku, penjelmaan musim-musim yang terkapar merintih di ladang gersang.

Apa kau rasakan bagaimana cakar itu mencabik harapan, mengelupas tegas dengan sekali hentakan?

Tidakkah kau dengar itu? Kau dengar rintihan itu bukan?

Atau, tidakkah kau lihat itu?

Sayatan pedih yang mengintip keluar dari kulit lembut bayi-bayi yang terbuang,

Anak waktu yang meringkuk dalam pelukan kematian, terlelap dalam sunyi lalu mati tak berbekas.

Jadi, katakan padaku dimana letak bahagia itu Tu(h)an..

Atau segeralah tunjukkan padaku kemana harus kujemput asa-asa yang ranum itu

Agar kulahap dan segera kutumpahkan manisnya diselasar hidup yang penuh sesak ini.

Kau mendengarku, Tu(h)an.

Jakarta, 22-06-2010. Malam.

Kami menunggumu, Tu(h)an.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s