Antara hati dan emosi: cinta tak pasti.


Lama sudah aku tak menulis di blog ini, mungkin karena kesibukanku atau memang mungkin aku yang sudah mulai terlalu menyibukkan diriku mencari arti diri yang menepi.

Ada hal yang menarik saat aku mencoba lebih memahami makna perjuangan seseorang terhadap jalan yang ia pilih. Beberapa sahabatku bahkan harus rela mengorbankan -kalau bukan mati konyol- bahagia yang ia punya demi sebuah keinginan yang seharusnya ia sendiri sadari bahwa keinginan itu sangat sedikit kemungkinannya untuk menjadi nyata. Baiklah, mungkin sedikit membingungkan, sebaiknya aku urai lebih lanjut lagi.

Sebagian mencoba hidup dengan orang yang tak dicintainya, sebagian lagi memilih hidup untuk mencintai orang yang tak mencintainya, bahkan sebagian lagi tak tahu apakah ia pernah mengenal makna dicintai atau mencintai.

Kau tentu sudah mulai memahami apa yang akan aku bicarakan ini. Ada sebuah perbincangan yang menarik dengan sahabatku yang memilih mencintai perempuan yang tak lagi mampu ia miliki, seseorang yang telah menjadi milik orang lain.

“Sahabatku, kenapa kau harus memilih jalan yang orang lain sama sekali tak ingin memilihnya? Kenapa kau harus merasa getir bila ada bahagia yang lebih mudah? Cintailah perempuan lain, jangan larutkan jiwamu dalam kemurungan.” kataku.

“Dia menjelma darah dalam tubuhku, bagaimana mungkin kupisahkan dia dari hidupku? Sudahlah, jangan memaksaku mencintai perempuan lain, mencintainya lebih dari cukup meski memiliki sudah tak mungkin.” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

“Kawan, sudahlah. Jangan kau paksa hatimu untuk terus diterjang meriam penderitaan, kau layak bahagia tanpa harus mempertahankan sesuatu yang kau sendiri tahu itu tak akan nyata. Tinggalkan benteng hatimu dan bangun istana yang lain, kau sangat mampu untuk itu.” ujarku sekali lagi.

Sahabatku hanya terdiam dan aku tahu ia sudah memilih jalannya sendiri. Mungkin itu adalah pilihan hati, atau bisa jadi emosi. Mungkin hatinya benar-benar sudah memilih untuk mencintai seseorang yang tak mungkin lagi dimiliki dan ia memilih bertahan dengan segala rasa sakit yang hadir, atau sebenarnya itu hanyalah emosi yang tak mampu ia redam, emosi yang menghadirkan keinginan memiliki yang tak padam.

“Sahabatku, kenapa kau harus memilih jalan yang orang lain sama sekali tak ingin memilihnya? Kenapa kau harus merasa getir bila ada bahagia yang lebih mudah? Cintailah perempuan lain, jangan larutkan jiwamu dalam kemurungan.” tanyaku sekali lagi mencoba buyarkan lamunannya. Aku masih tak mengerti atau lebih tepatnya tak ingin melihat sahabatku bersedih seperti itu, sungguh pastilah sangat menyesakkan, tapi mungkin itu sudah pilihannya dan ia siap dengan resiko yang hadir.

“Membiarkannya menjadi kenangan bagiku bukanlah hal mudah,  kawan. Jika pun memang harus melakukannya, maka biarlah waktu yang menempaku, bukan engkau.” jawabnya sambil tersenyum dan aku tahu aku tak harus berkata apa-apa lagi setelahnya.

Sebagian lagi yang berbincang denganku mempunyai pilihan yang sama, mereka yang mencoba hidup dengan orang yang tak dicintainya karena kepatutan dan kedewasaan, dan mereka yang terus-menerus mencoba untuk mencintai orang yang tak mencintainya, serta mereka yang memilih tak membalas cinta yang datang untuknya karena lebih memilih mempertahankan sesuatu yang tak pasti. Apapun, antara hati dan emosi, cinta pun demikian tak pasti.

Sahabatku, dan engkau yang sedang membaca tulisan ini. Mungkin pilihan yang hadir bukanlah pilihan yang ingin kita pilih, tapi cobalah memilih dengan hatimu jika tak mudah menggabungkan emosi dan hati bersamaan. Pada akhirnya, hanya ada kebersamaan. Luka selalu hadir, tapi itu tak kan cukup membunuh kita.

Salam hangat,

N.R

Antara hati dan emosi: cinta tak pasti.

One thought on “Antara hati dan emosi: cinta tak pasti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s