Paparan hujan sore ini: cemburu.


Hujan selalu menghadirkan kenangan, mungkin untukku atau pun untukmu. Selalu ada kerinduan yang lahir dari tiap nuansa rintiknya, ada bayang kenangan yang menyelinap pelan dari tiap tetesnya. Namun hujan sore ini hanya sisakan cemburu yang teramat sangat di hatiku.

 

Ada masa dimana kau dan aku saling bergandeng tangan lewati derasnya hujan yang datang tanpa sekalipun kita mengeluh. Ada masa dimana hujan membuat kita saling merindu kecupan dimana kau dan aku terpisah jarak. Masa dimana kau dan aku dulu saling memiliki, menyayangi secara hati dan jasad.

 

Hujan  sore ini hadir seperti jelmaan pedang tajam yang siap menyayat hatiku. Hujan yang mengabarkan aku tentang peraduanmu dengannya, kekasihmu yang baru. Sedang aku, masih menderita disudut kamar yang dulu sempat kita jadikan tempat saling mendekap rindu. Tiap rintik yang turun merasuk dalam tubuhku selayak jarum tajam tanpa henti, begitu tega menghujam segala pori jasadku. Bukan sakit seperti itu yang kurasa, tapi sakit yang maha dahsyat yang menembus jiwaku. Sakit yang kusebut cemburu, karenamu.

 

Semestinya aku sudah bisa menjadi seorang manusia yang tegar, manusia yang memahami bahwa cinta bukanlah keharusan memiliki. Denganmu, aku tak pernah mampu melakukannya. Denganmu aku tak pernah mampu berhenti mencintai.

 

Mungkin saat ini, tubuh yang dulu kudekap penuh sayang sudah menyatu dengan jasad lainnya. Ah, aku tak sanggup membayangkan tiap kecupan yang singgah dibibirmu, aku tak sanggup memikirkan betapa hangatnya pelukan yang kau beri untuk lelakimu itu. Sial, aku masih tetap saja memikirkannya!

 

Degupan amarah dalam dadaku begitu besar hingga aku tak mampu lagi membedakan mana suara hati dan mana suara emosi. Rasa sakit ini seakan ingin keluar, menembus kulit jasadku lalu mengejarmu yang sedang berdua disana. Ingin kurobek semua rasa yang pernah ada, namun tak sedikit pun aku mampu membunuh cemburu ini. Sekali lagi, entah aku tak memahami sedikit pun tentang rasaku yang begitu setia untukmu.

 

Hujan sore ini semakin deras, seperti lantunan nyanyian kematian yang Tuhan kirimkan untukku. Satu-satu tergambar jelas bagaimana kita dulu berjuang begitu hebat untuk saling mencintai. Tampil penuh dengan warna-warni yang memabukkan hatiku. Ada senyum yang masih kulihat jelas dari bibirmu, namun seketika itu menjadi jelaga yang memenuhi hati saat membayangkan bagaimana bibir itu mengecup lembut lelaki lain.

 

Ah, aku muak, Aku benci hujan, mulai detik ini.

 

-sebagian bertahan dalam sakitnya.

 

Salam hangat,

N.R

Paparan hujan sore ini: cemburu.

2 thoughts on “Paparan hujan sore ini: cemburu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s