Tentang hidup yang tak hidup


Sahabatku,

Dunia selalu dianggap sebagai sebuah panggung sandiwara. Ini tentu saja berlaku akibat banyaknya rona dan likuan yang terjadi. Kadang memang kita menjadi pihak yang menang, pihak yang dengan gagahnya selalu memberi arti pada kehidupan, menjadi orang baik, orang yang bijak, selalu penuh dengan limpahan bahagia. Kadang, kita pun menjadi pihak yang nestapa, nelangsa dalam kehidupan sehari-hari, menjerit karena perut yang tak terisi. Niscaya, kehidupan memang selalu memberi kesan berbeda, darimana kau memandangnya.

Ada sebuah sajak dari Sang Merak, kekasih para penikmat puisi, Guru bagi para pelajar bahasa, sang penakluk belantara kata-kata, W.S Rendra. Sajak yang sangat dahsyat berjudul “Hai Ma” ini menggetarkan seluruh sendi tulangku, merasuk lalu melebur dalam ketidakberdayaanku sebagai seorang anak manusia.

“Bukan maut yang menggetarkan hatiku
Tetapi hidup yang tidak hidup karena kehilangan daya dan kehilangan fitrahnya “

Dua baris awal ini sanggup menelanjangiku akan arti hidup. Ya, betapa berartinya sebuah kehidupan yang hidup, sebuah daya dan fitrah sosok manusia. Lalu, apa yang membuatku merasa bahwa aku telah menikmati hidupku dengan ‘hidup’, mempunyai daya untuk hidup, serta selalu fitrah secara jasad dan jiwa?

Kesengsaraan selalu saja hadir pada kaum yang tak memahami makna hidupnya. Alangkah besar arti hidup, menikmati segala yang ada dalam keseharian kita secara nyata, bukan sekedar angan dan mimpi. Kesusahan selalu diterima dengan akal, penderitaan selalu dipeluk dengan harapan, dan menikmati setiap detik yang ada. Inilah hidup yang hidup. Hidup yang tak melulu mengeluh, yang dengan alasan takdir lalu kita berserah diri, bukan seperti itu. Kita selalu memiliki daya, upaya yang menggerakkan diri kita menuju kehidupan yang hidup itu. Serta ingatlah tentang hakekat penciptaan kita yang suci, yang fitrah dengan segala kebaikan doa di dalamnya.

Kawan, keberadaan kita bukanlah tanpa sebab. Sungguh besar arti yang tersembunyi, yang seharusnya mampu kita temukan. Mungkin kita merasa sebagai orang yang selalu sial, selalu dalam masalah, hidup yang tak adil, atau beragam alasan lainnya tanpa pernah kita mau memahami kenapa kita hidup, kenapa kita dilahirkan.

Tuhan mencipta kebaikan, Tuhan pula yang mencipta keburukan. Maka diantara keduanya ada manusia, yang secara lahir tercipta dengan fitrahNya. Maka janganlah sesekali kau merasa Tuhan tidak adil, sungguh Ia Maha Adil. Jika kau merasa tak berdaya, itu karena kau yan paling kuat untuk menerima cobaan yang Ia beri. Seandainya saja cobaan itu diberikan kepada orang lain, maka remuklah segala hidupnya. Kita selalu menjadi orang yang terpilih, Tuhan bekerja dengan caraNya. Maka siapa yang terus berjalan, hidup yang hidup, penuh daya dan fitrah, maka ia kembali menuju hakekat penciptaannya.

Lalu, apa yang akan kau dustakan? Semua orang akan merasa bahwa dunia ini hanya sebuah panggung, hidup ini selalu berisi likuan, apa yang berbeda dari itu? Bangunlah, isi kembali bahan bakar kehidupanmu. Jadilah manusia yang hidup, yang penuh daya dan selalu fitrah. Kau tak pernah sendiri, itulah hakekatmu.

 

Salam hangat,

N.R

 

 

Sajak ‘Hai Ma’ dapat dinikmati di:

http://www.youtube.com/watch?v=U3HaMFp2VJM

Tentang hidup yang tak hidup

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s