Perceraian yang seharusnya


Perceraian, ah, berulangkali pernah kubahas masalah ini. Namun, perbincangan saat makan siang tadi membuatku merasa harus menulis sesuatu tentang liku hidup ini. Ya, perceraian pastilah tidak ingin kita rasakan dalam membina hubungan rumah tangga. Aku mungkin belum berumahtangga, tapi percayalah bahwa ini adalah sesuatu yang sangat harus dipikirkan dan dicari jalan yang terbaik untuk melakukannya.

Siang ini, aku berbincang dengan seorang lelaki yang tampak gelisah. Raut mukanya bercerita tentang kegalauan hidup, hembusan nafasnya jelas menggambarkan bahwa sesuatu hal hebat sedang atau akan terjadi dalam hidupnya. Kemudian aku sedikit membuka suasana setidaknya agar ia mau berbagi.

“Maaf, sepertinya ada hal berat yang sedang kau rasakan?” tanyaku.

“Tak ada orang yang ingin berada dalam posisiku ini. Ketika semua yang sedang dibangun, semua yangs edang dikerjakan untuk sebuah impian tiba-tiba harus kandas dan hilang.”

“Apa itu menyangkut hatimu?”

“Aku akan bercerai. Tapi bukan itu yang menjadikanku merasa kehidupan sangat berat dijalani.”

“Lalu?”

“Anak. Ini tentang anak-anak yang tak seharusnya merasakan hal seperti ini. Aku kehilangan perempuan yang aku cintai, tapi entah bagaimana aku harus melanjutkan hidup tanpa anak-anakku.”

Sedikit demi sedikit aku mulai memahami kegelisahan yang lelaki itu rasakan. Aku tak ingin tahu kenapa mereka harus bercerai, aku tertarik bagaimana ia sangat meikirkan anak-anaknya.

Perceraian mungkin memang harus terjadi. Perpisahan antara kedua makhluk yang terikat dalam mahligai rumah tangga, sesuatu yang memang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Tapi hal terbaik yang memang harus hadir adalah masalah tentang anak-anak. ini tentu saja tak akan menjadi soal bila perceraian terjadi saat belum lahir seorang anak. Bukankah tiap hal punya makna? lalu apa yang seharusnya dilakukan?

Anak-anak selalu menjadi korban, bila harus dengan begitu aku menyebutnya. Tentu bila perceraian itu untuk kebaikan anak-anak pastilah bukan lagi sebagai korban, tapi, adakah hal seperti itu? Hak untuk terus menjadi orang tua bagi seorang anak patutnya selalu dijaga meski kedua orang tua sudah bercerai. Seorang anak tetap membutuhkan sosok ayah dan ibunya. Tak ada satu pihak yang boleh memisahkan satu dari lainnya, meski memang secara hukum itu terjadi. Perhatian seorang ayah atau ibu akan selalu dibutuhkan anak, meski kemudian akan hadir sosok ayah atau ibu baru bagi mereka. Tak sepatutnya lalu kita menjadikan itu sebagai alasan.

“Kenapa dengan anakmu?” tanyaku lagi.

“Mereka selalu mengatakan bahwa aku lelaki yang tak bertanggung jawab, aku sosok ayah yang jahat. Tapi, apakah mereka juga tahu bagaimana anak-anakku selalu menangis tiap kali harus kulepas untuk kembali lagi dengan ibunya?”

“Mereka bersama ibunya?”

“Tentu saja. Aku tak akan memisahkan mereka dari ibunya meski kami sudah tak bersama. Tapi, kenapa mereka harus melarang anakku untuk bertemu denganku? Sedangkan perceraian kami pun belum sah secara hukum?”

Ini bukan menjelakkan sisi perempuan atau ibu, karena ini bisa saja terjadi sebaliknya. Tapi ini yang tadi kuperbincangkan dengan lelaki itu. Seorang ayah tetaplah ayah, seorang ibu tetaplah ibu. Anak butuh keduanya untuk tumbuh dan menjadi manusia yang sempurna. Berikanlah hak untuk mereka secara baik, meski menurut masing-masing pihak itu bukanlah hal adil, bukankah keadilan sesutu yang abstrak?

Perceraian tentu saja boleh dilakukan jika itu memang yang terbaik, tapi hal yang harus dipikirkan adalah hak untuk anak-anak. Cobalah untuk menepikan masalah antar orang tua, jangan jadikan mereka sebagai bahan yang lebih memperumit masalah. Hidup mereka masih panjang, masih banyak hal yang harus dilalui. Beri mereka semangat dan pengertian, bukan dengan hasutan atau dendam. Ini akan membuktikan bahwa tugas sebagai orang tua sudah dilakukan dengan benar.

Masih banyak hal lain menyangkut anak-anak yang ditepikan. Aku harap, tulisan sederhana ini mampu menggoreskan pemahaman tentang arti perceraian dan hubungannya dengan anak.

Tak ada makhluk yang diciptakan untuk menderita, maka jangan sekali-kali kau merasa kuasa atas hidup seseorang.

Salam hangat,

N.R

Perceraian yang seharusnya

2 thoughts on “Perceraian yang seharusnya

  1. jie says:

    i totally agree on this one as i can relate to it. to me, when a couple finds it hard to live together under one roof, it is better to take the next step, which is divorce. even if they do have children. it is better to raise the children away from bickering and countless screaming or fighting. the parents however needs to understand their roles in bringing up the children. what’s done is done. do not ruin their life just because the parents fail in their marriage. and do not make excuse out of them. they are not the perpetrator. they are the seeds of love that was once blooming between 2 people. to deny one’s right just because the other party thinks that they are better, makes them no better than the person they accuse.

  2. hi I was fortunate to seek your blog in yahoo
    your topic is splendid
    I obtain much in your website really thanks very much
    btw the theme of you blog is really fabulous
    where can find it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s