Merindukan yang mungkin tak semestinya dirindukan.


Sudah lama aku tak menulis, mungkin memang ruh jemariku terlalu lelah menekan tuts-tuts ajaib ini. Malam ini ada sesuatu yang menghentak dadaku, seperti butiran-butiran salju yang perlahan jatuh lalu meresap menembus kulitku. Ah, bagaimana aku harus mengatakannya, ini seperti perasaan rindu yang aneh, karena memang aku sedang tak ingin merindukan sesuatu apapun saat ini.

Terakhir kali aku merindukan seseorang, mungkin tiga bulan yang lalu. Ya, sudah selama itu sampai akhirnya aku merasakan getaran hebat dalam dadaku yang kemudian memaksa seluruh bagian diriku untuk menyebut satu nama, perempuanku. Menyedihkan, karena untuk merindukan orang yang aku cintai pun tak bisa sepanjang waktu, meski kadang aku benar-benar menginginkannya. Aku bukanlah pencinta yang baik, aku bukan juga pencerita yang mampu hadirkan kisah-kisah romantis tentang kekasihnya.

Dia, perempuan yang mampu membuatku tak berdaya saat mengenangnya adalah perempuan yang sama yang menghadirkan rasa takjubku untuk pertama kali, dan sekaligus perempuan yang mengajarkanku akan arti cemburu dan sakit hati yang sesungguhnya. Tidak ada yang sempurna darinya selain kesempurnaan yang didambakan setiap kekasih akan pujaannya. Lalu, bagaimana kisah ini berawal hingga untuk merindukannya pun aku tak sanggup? Entahlah, aku sendiri tak pernah tahu sampai saat ini.

Malam ini, aku merindukan sesuatu yang mungkin tak semestinya aku rindukan. Mungkin saja aku bisa melupakan semua hal dengan kesibukanku, melupakan rasa sakit dengan tertawaku, mengubur derita tanpa harus menancapkan nisan bertulis namamu, tapi, tetap saja kadang kau hadir entah darimana. Aku hanya tahu satu hal, aku pernah berhasil membencimu dengan sederhana, aku pernah mencacimu dengan ratusan kata sayang, dan aku pernah merobek hatimu meski setelahnya kau membakar hatiku menjadi abu.

Entahlah, malam ini aku merasakan hal yang berbeda. Bayangan segala kemungkinan bahwa mungkin saja kita tak berakhir dengan sumpah serapah seperti ini tiba-tiba muncul kembali di otakku. Kemungkinan akan mimpi dan impian yang pernah ada seperti menyeruak kembali menerobos lorong-lorong panjang kenanganku. Mungkin kita bisa berakhir bahagia, sebagai dua manusia renta yang saling setia menjaga hati dan keyakinannya akan perasaan masing-masing. Dua makhluk yang kemudian akan saling berpeluk saat ajal menjemput. Ah, atau mungkin kita sudah memiliki anak yang lucu dan saling berebut remote televisi saat senja telah tiba. Ya, mungkin kita seharusnya berakhir seperti itu.

Kini, perasaan rindu ini sudah menyentuh hatiku. Rasa dingin merambat ke sekujur tepinya, menelusuri guratan-guratan rasa yang pernah ada. Tidak, aku tak ingin merasakannya lagi. Biarlah jemari ini lebur dengan sendirinya, biarlah rasa ini pudar lewat hitungan detiknya. Cukup, untuk malam ini.

Maaf sayang, kau tak sepatutnya aku rindukan lagi.

:perempuan yang lalu.

 

Salam hangat,

N.R

Merindukan yang mungkin tak semestinya dirindukan.

One thought on “Merindukan yang mungkin tak semestinya dirindukan.

  1. bunda manizz bede says:

    hanya beda dengan siapa..tapi kisah ini sedang kualami. betapa ga enaknya rasakan rindu yg tak seharusnya..tapi dia ada dan selalu datang..kadang tak terbendung..dan air mata adalah pelipur lara…ahhh…cinta ini..kenapa mesti terlarang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s