Kisah sederhana, untukmu. -d.e.s.t.i.n.y


Aku tak tahu kenapa aku harus menuliskan kisah ini, apa pun alasan yang kucoba hadirkan untuk sekedar jadi pembenaran atau pun sebagai alasan bahwa kau memang berarti untukku, sepertinya belumlah cukup untuk meyakinkanku mulai menulis kisah ini.

Aku masih mengingat bagaimana airmata itu terlalu deras mengalir dari bola matamu yang sendu. Atau tatap kosong tiap kali hujan turun menemanimu di sore yang gelap itu. Aku benar-benar tak tahu harus menulis darimana.

Dan tahukah kau, aku baru meyakini bahwa aku harus menulis kisah ini, tepat ketika aku menjejakkan kakiku di pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai Ujung Genteng, pantai yang selalu kau ceritakan tiap kali tubuh ringkihmu bersandar di bahuku.

“Jika pertemuan adalah rahasia, maka pertemuanku denganmu melebihi rahasia itu sendiri.”

Pertemuan kami mungkin bukanlah hal yang aneh bagi semua orang. Pertemuan tiba-tiba yang tak pernah sekali pun terbayangkan. Ketika lekuk para penari asik dengan kemabukkannya pada lantai-lantai kayu tua berwarna coklat gelap, di ruang seni yang dindingnya penuh dengan lukisan karya Abdulah. Tak ada hal yang menyita semua tatapku dari para penari itu sampai kau datang dengan kaki berjingkat pelan lalu duduk tepat di pojok ruang. Dan sejak saat itu, tak ada lagi liukan penari, tak ada lagi lagu sendu yang mengiringinya, mataku sepenuhnya berisi wajahmu.

“Aku tak mengenalmu sebelum mata itu menyapa dan mengajakku berbincang tentang arti kerinduan.”

Suara-suara langkah kaki mulai terdengar menyelinap ke telingaku. Langkah-langkah penuh harapan yang penuh dengan keyakinan akan masa depan. Tapi tidak dengan mataku yang masih saja menatapmu duduk termenung di pojok sana, termenung dengan tatap kosongmu. Tidak ada hal lain dalam otakku selain berharap mata itu segera menatapku, sekedar berbincang akan awal pertemuan. Dan degup berhenti, ketika mata saling menatap penuh keintiman, seperti pengantin yang meneguk secawan hasrat di bulan purnama. Aku mengenalmu dari tatap itu, pun denganmu.

“Menarilah di dadaku, bersenandunglah di hatiku. Karena kau adalah altar dan lagu yang sempurna untuk tarianku.”

Ruang seni ini terasa begitu hening. Tak ada sesiapapun selain kau dan aku. Hembusan angin dari celah jendela kayu tua terasa begitu menyejukkan. Dan aku mulai berdiri laksana kuda-kuda perang siberia yang tak lagi mengenal rasa takut pada kematian. Aku berjalan ke medan perang yang tak pernah kuragukan untuk kuhadapi. Mataku penuh dengan wajahmu, degupan jantungku penuh dengan dentuman hasrat menggapaimu hingga tulangku bergemeretak tiap kali kakiku menjejak pada lantai kayu berwarna coklat ini. Dan takdir mulai bersikap egois, ia mengambil seluruh kuasaku untuk menolak, pun kuasanya untuk menghindar dari ketentuan. Kami menari seperti camar yang terbang meliuk rendah menuju dermaga. Kami bersenandung layaknya penyair-penyair meledakkan kata-katanya di altar para Raja.

“Jika pertemuan adalah awal perpisahan maka tidak dengan pertemuanku denganmu, pertemuan kita adalah awal yang tak pernah ada akhir.”

Tak ada yang lebih membahagiakan semua orang selain rasa kasih sayang yang melekat di hati. Pertemuan yang berawal dari rahasia mengantar kami pada jalan berliku penuh rahasia. Semua terasa akan baik-baik saja, seperti halnya pucuk-pucuk cemara yang akan selalu mencoba menggapai matahari, atau putik-putik mawar yang tak pernah berhenti berharap untuk segera menjadi mawar terindah di antara lainnya. Hingga kami harus berdiri, mematung di antara kenyataan yang berebut masuk ke kisah ini. Perempuanku, dialah penari yang mampu membuat jiwaku ikut menari. Dialah penyenandung yang mampu membuat rohku ikut bernyanyi. Dan kenyataan begitu egois untuk menggerogoti jasadnya yang terus merapuh karena kanker yang melekat di rahimnya.

“Cintai aku laksana pasir, demikianlah yang aku pinta darimu. Jangan cintai aku seperti bintang-bintang malam, aku tak pernah ingin jauh darimu.”

Matahari mulai bersinar redup tiap kali kami berbicara tentang masa depan. Senja tak lagi berwarna keemasan, tak lagi hadirkan doa-doa yang selalu disenandungkan alam. Dan perempuanku tetap saja menari, terus saja bersenandung, seolah semua akan baik-baik saja. Ia mulai bercerita bagaimana dalam mimpinya ia selalu berjalan menggenggam jemariku di hamparan pasir putih, di antara alunan ombak, di antara matahari yang tak pernah malu-malu tersenyum. Ia selalu menatap dan mengisi mataku penuh dengan wajahnya. Dialah perempuanku, yang kini harus terbaring mencoba berbincang dengan kematian. Dialah perempuanku, yang tak pernah berhenti meyakinkanku bahwa matahari akan selalu bersinar tiap pagi.

“Perpisahan yang lebih menyakitkanku, bukanlah kematian. Namun mata yang tak akan mampu lagi mengajakmu berbincang.”

Penari itu telah pergi. Ia menghuni ruang seni yang baru, mungkin bukan dengan lantai kayu berwarna coklat tua. bukan dengan dinding penyekat yang penuh dengan lukisan, bukan pula dengan lagu-lagu yang penuh dengan irama kesedihan. Penari itu kini menari untuk Rajanya, seperti halnya penyair-penyair itu. Namun, penari itu masih terus saja menari di daadaku, masih terus saja bersenandung di hatiku. Seperti halnya camar, pucuk cemara dan putik-putik mawar yang akan terus ada. Sebagaimana matahari, yang ia janjikan untukku.

Demikian apa yang mampu kutulis untukmu, kisah sederhana untuk mengenang pertemuan yang tak berakhir. Untuk perempuan yang tak pernah sempat kuajak menari di hamparan pasir putih. Tak sempat menggenggam jemariku, atau sekedar menatap laut yang biru.

-kau penari jiwaku.

Kisah sederhana, untukmu. -d.e.s.t.i.n.y

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s